- Posts:
- 1,390
- Group:
- Junior Moderators
- Member
- #180
- Joined:
- Aug 2, 2012
|
Story Type: Original Fiction Genre : Romance Rating : K+ Language: Indonesia
~ Entah sudah berapa kali wanita beriris merah itu melirik ponselnya, ketidaksabaran yang terasa di hatinya semakin menjadi – jadi. Jarinya mengetuk – ngetuk meja kayu di hadapannya, melampiaskan kekesalan yang menumpuk. Sudah jadi pengetahuan umum kalau orang yang mengajak bertemu harusnya datang lebih dulu ke tempat perjanjian, tapi ini?
Dasar si Brengsek itu, kalau dia datang nanti—
Tepukan pelan di bahu kanannya membuyarkan lamunannya, dan saat ia mendongak iris merahnya beradu pandang dengan sepasang bola mata sewarna tanah, dan pipinya tampak merah—itu pertengahan Maret, udara masih dingin. “Maaf, aku terlambat.”
“Aku hampir mati kebosanan.” Sahut wanita beriris merah itu—Honda Akari, sambil memperhatikan sosok pria yang duduk di kursi seberang, “Bukannya harusnya yang mengajak bertemu yang sampai duluan?”
“Berlebihan kamu.” Sahut si pria—Hieru Kou, “Aku cuma terlambat sepuluh menit.”
“Sepuluh menit itu berharga.”
“Iya, iya, Bu Polisi. Sekarang pesan sesuatu sana, pasti kamu lapar.” Balas Kou, matanya langsung memperhatikan buku menu yang entah sejak kapan dipegangnya, “Tenang saja, hari ini aku yang traktir.”
“Memang harus kamu yang traktir.” Sesuatu di nada Akari membuat Kou mengalihkan pandangannya dari menu yang ia pegang, dan kembali iris cokelatnya bertemu iris merah Akari, “Selamat, sudah disumpah menjadi seorang dokter.”
“Terima kasih, Akari.” Aneh, padahal harusnya hari itu cukup dingin, tapi pipi Kou terasa panas. Ujung – ujung bibirnya terangkat, membentuk senyum samar, “Sudah, sana pesan makananmu.”
***
Sebenarnya, Akari sama sekali tidak mengerti kenapa mereka harus—ehm, berkencan—hari itu. Hari itu bukan akhir pekan atau libur nasional, dan hanya kebetulan saja keduanya bebas. Kou baru saja disumpah menjadi seorang dokter beberapa hari sebelumnya, dan baru akan mulai praktik minggu depan, sedangkan Akari memang sedang tidak bertugas.
‘Ulang tahunnya juga masih dua hari lagi…lalu apa—‘ “Hei, jangan bengong.” Sentuhan ringan di lengan Akari membuyarkan lamunannya, “Masih lapar?”
Akari menghela napas, “Memangnya semua orang yang bengong itu karena lapar?”
“Ya tidak juga sih…” Jawab Kou sambil mengalihkan pandangan. Ini juga menarik perhatian Akari, yang notabene kejelian matanya jauh di atas rata – rata. Entah kenapa, hari ini sikap Kou juga aneh. Seperti ada yang disembunyikan.
Awalnya, Akari hanya ingin mengikuti saja ke mana Kou berjalan—toh dia yang punya rencana. Yang tidak disangka – sangka, ada sentuhan di tangan Akari, yang perlahan berubah menjadi genggaman yang pelan, tapi erat. Dengan kaget Akari menengadahkan kepalanya, menatap Kou yang masih saja tidak menatapnya. Satu lagi hal janggal—karena setelah lama berpacaran, sangat jarang mereka bergandengan tangan.
Mereka berjalan dalam diam, sama – sama berkutat dengan pikiran masing – masing, dengan jari – jari yang saling terkait. Dalam hati, Akari sedikit bersyukur dengan sikap Kou yang tidak biasa ini—udara pergantian musim dari dingin ke semi tidak bisa dibilang nyaman, dan adanya kontak langsung seperti ini membuat tangannya terasa hangat.
“Kita ini sebenarnya mau ke mana sih?” Tanya Akari, ketidaksabaran kembali menyeruak, melihat Kou yang tak kunjung angkat bicara dan mengingat kalau mereka sudah cukup lama berjalan tanpa ada tanda – tanda akan berhenti.
“Capek?” Tanya Kou, melirik Akari sekilas, lalu kembali menatap apapun yang ada di depannya, “Sebentar lagi sampai kok, tuh.” Kou menunjuk sebuah roda raksasa yang menjulang tinggi, dan mata Akari terbelalak.
Odaiba Ferris Wheel?
*** [
Jadi tadi dia datang terlambat, jalan – jalan tujuannya tidak jelas, menyuruhku tidak bengong padahal daritadi dia yang bengong, dan sekarang kami berdua ada di dalam bianglala raksasa dan dia tidak mengucapkan sepatah kata pun? Dia ini kenapa sih?
Akari memperhatikan sosok pria yang duduk di seberangnya itu—bertopang dagu, dan tampak melamun mengamati kaki langit yang mulai menjingga, pertanda senja menjelang.
“Kou.” Panggil Akari. Setelah beberapa saat dan yang dipanggil tetap diam, Akari mulai naik darah, “Hei! Kacamata Brengsek!”
Kou tersentak, dan langsung menoleh kepada Akari, yang kekesalannya menguar jelas dari ekspresinya, “Kenapa teriak – teriak begitu sih?”
“Daritadi kupanggil, kamunya diam. Ya bagaimana aku tidak teriak?” Semprot Akari, “Kamu kenapa sih hari ini? Di tempat sesempit ini dipanggil – panggil tidak dengar, daritadi juga kamu diam terus. Sakit?”
“H—hah?” Sekilas, mata Kou melirik pada tas kecil yang sejak tadi ia bawa—dan membuat Akari curiga, “Tidak kok. Aku tidak sakit.”
“Terus, kenapa kamu bersikap aneh terus daritadi?”
“Memangnya aneh bagaimana?” Kou berkilah, tapi sikapnya terlalu janggal—menatap balik mata Akari saja tidak—dan apa itu semburat merah di pipinya?
“Tidak biasanya kamu mengajak pergi di waktu seperti ini, dan Odaiba Ferris Wheel? Benar – benar bukan kamu banget. Selain itu,” Akari menelan ludah, “ta—tadi kamu menggandeng tanganku. Kan, biasanya tidak.”
Kou menghela napas, “Sekali – kali kan ganti suasana tidak apa – apa. Terus soal gandengan tangan itu—uh, maksudku, kita berdua sama – sama tidak pakai sarung tangan, jadi harusnya kalau bergandengan ya tangan kita tidak kedinginan.”
Akari mengernyitkan alis, tidak puas dengan jawaban Kou. Entah, dari sikap Kou, rasanya masih ada yang disembunyikan darinya. Namun dilihat dari tingkah laku Kou yang tampaknya tidak akan buka mulut lebih jauh lagi, Akari memutuskan untuk diam saja. Toh kalau itu benar – benar sesuatu yang harus ia ketahui, Kou pasti akan memberitahukannya.
Lama sekali rasanya bianglala raksasa itu berputar, rasanya sudah berjam – jam dan kompartemen mereka tidak juga sampai di puncak. Akari mulai merasakan keheningan yang tidak nyaman, sementara mata Kou masih terpaku dengan sang raja siang yang hendak kembali ke peraduan.
“Akari?”
Akari terkejut dengan panggilan yang tiba - tiba itu, “Apa?”
Kou mengeluarkan sesuatu dari tasnya—suatu…kain merah marun? “Ini, buat kamu.”
Akari menerimanya dengan ragu – ragu, “Ini…sweter?” Akari mengangkat sweter itu dengan pandangan tidak percaya, “Kamu yang rajut sendiri?”
“Mana mungkin!” Tangan Kou mengusap lehernya canggung, “Itu ibu yang merajutkan…aku sih, yang minta.”
Akari masih memandangi sweter di tangannya dengan takjub, “Ah, ini…terima kasih. Sweter ini bagus sekali, sungguh. Tapi…untuk apa? Ulang tahunku masih lama, dan justru yang sebentar lagi ulang tahun itu kan kamu.”
Kou memalingkan pandangannya, “Hari ini kan White Day.”
“Lho, aku kan nggak ngasih kamu coklat waktu Valentine?”
“Ya—yang lebih penting!” Kou menatap lurus mata Akari, “Coba kamu lihat saku dada sweter itu.”
Akari menatap Kou bingung, tapi ia tetap melakukan apa yang diminta Kou. “A.H? Ini apa maksudnya?” Akari mengamati bagian yang dimaksud dengan seksama, “Gaya rajutannya berbeda dengan bagian lain, siapa yang merajut bagian ini?”
“I—itu, uhm…itu rajutanku, haha.” Jawab Kou gugup, “Itu inisialmu.”
Akari bisa merasakan perasaan hangat yang aneh—antara ingin melompat senang dan memeluk si Brengsek di hadapannya, tapi tentu saja tidak dilakukannya—gengsi, kan?
“Kepanjangan inisial itu bukan Honda Akari.”
Hah?
Akari memandang Kou bingung, sementara yang dipandang hanya balas menatap lurus—kenapa tangannya terus-terusan berada di dekat saku jaket? “Bagaimana sih, katanya ini inisialku? Namaku kan, memang Honda Akari.”
“Namamu sekarang memang Honda Akari.” Kou merogoh sesuatu dari saku jaketnya, “Tapi yang kumaksud dengan inisial itu adalah Hieru Akari.”
Eh?
Apa katanya tadi?
Akari belum sempat bereaksi saat tiba – tiba Kou menggamit tangannya, dan tangan Kou yang satu lagi mengeluarkan kotak kecil dari saku jaketnya. Dengan sebelah tangan, Kou membuka kotak kecil, dan sebuah logam kecil yang mengilat berada di dalamnya.
— itu—cincin?
“Akari.” Tidak pernah sekalipun Akari mendengar nada bicara Kou yang seperti ini, di situasi apapun. Apalagi ekspresi di wajahnya itu. “Apa kamu mengizinkanku mengubah margamu menjadi Hieru, dan menjalani hidup bersamaku, sampai maut memisahkan?”
Sunyi sesaat.
Tenggorokan Akari tercekat, dan otaknya seolah bekerja lebih lambat, berusaha memproses semua yang terjadi saat ini.
Itu tadi—lamaran?
Si Brengsek ini…baru saja melamarku?
“Eh, A—akari? Kau baik – baik saja? Kenapa terdiam begitu?” Tanya Kou dengan nada khawatir, karena Akari hanya mematung, seolah – olah tak mendengar pertanyaannya tadi. Rasa cemas mulai muncul di hati Kou—jangan – jangan dia tidak mau—jangan – jangan aku akan ditolak—jangan – jangan—
“Dasar bodoh.”
“Eh—“ Ucapan Kou terpotong saat tangan Akari yang bebas mencubit pipinya—keras, sampai – sampai Kou mengaduh, “Aduh—kamu ini kenapa sih—“
“Kamu ini bikin bingung saja. Kukira ada makhluk gaib darimana yang merasukimu, sampai – sampai kamu bersikap aneh hari ini.” Akari menarik tangannya dari pipi Kou, dan apa yang dilihat Kou membuatnya tercekat—Akari tersenyum, senyum yang tulus, dan pipinya merona, ditambah sinar jingga dari matahari yang hendak bersembunyi di balik kaki langit. Kou terpana.
Seolah baru tersadar, Kou langsung bertanya, “L—lalu, jawabanmu?”
Kou terhempas sampai badannya membentur kursi di belakangnya—membuat kompartemen mereka terguncang pelan—saat Akari memeluknya. Satu bisikan pelan dari Akari membuat Kou tersenyum lebar. Perlahan, ia memakaikan cincin perak tersebut ke jari manis kiri Akari, kemudian mengacak – ngacak rambutnya.
“Jangan membuat rambutku berantakan, Brengsek!”
***
“Jadi? Aku harus mengucapkan ‘selamat atas pertunanganmu’ nih?”
“Cerewet ah. Apa harus kuulang berkali – kali?”
“Dasar pemarah.” Wanita bersurai cokelat panjang itu tertawa, “Kau lupa siapa yang membantumu mencarikan cincin, memilihkan tempat—“
“Iya, iya! Maaf deh. Iya, kau harus mengucapkan ‘selamat atas pertunanganmu’, dan terima kasih atas semua bantuanmu.”
“Nah, begitu dong.” Wanita itu menghela napas, masih tersenyum usil—walaupun jelas lawan bicaranya tidak bisa melihat, mereka kan bercakap – cakap lewat telepon, “Sama – sama. Semoga hubungan kalian langgeng sampai…selamanya?”
Ada senyum yang tertahan, yang bisa ia rasakan dari nada lawan bicaranya, “Terima kasih, Kizami.”
“Iya, iya. Sama – sama. Sudah ya, kututup teleponnya. Jangan buat tunanganmu marah atau kesal terus. Daah.”
Bersamaan dengan ditutupnya hubungan telepon, wanita itu—Kizami Misa, menerawang, menatap langit malam yang berbintang.
Kapan ya aku dilamar juga—
—hah, perasaanku saja masih bertepuk sebelah tangan. Boro – boro dilamar.
Mata Misa melirik ponselnya, memperhatikan foto yang menjadi wallpaper-nya.
Mungkin sudah waktunya untuk berhenti menunggu?
Bibirnya membentuk senyum tipis.
Hieru Kou & Kizami Misa © saya, Honda Akari © kaibutsu
HAHAH maaf ini random banget...entah kenapa kepikiran aja mau nulis ini, dan saya rasa Akari di sini OOC. Maaf ya Za.
Btw soal Valentine, Kou gak pernah nerima hadiah apapun di hari Valentine, soalnya itu bersamaan sama meninggalnya orang tua kandung Kou, jadi dia ngerasa risih aja kalo harus nerima hadiah di hari itu.
Kayaknya masih banyak yang harus saya jelasin tapi...saya minta maaf aja deh soalnya ini pasti agak aneh :')
|