Art by @moa810 on twitter
- Posts:
- 3,136
- Group:
- Members
- Member
- #6
- Joined:
- Mar 15, 2011
|
Story Type: Original Fiction Language: (Kebanyakan) Indonesia ^^ Rating: T Genre: Friendship, Humor, Angst Summary: Shimada Kasai dan Kobayashi Kae menemukan diri mereka bertukar tubuh! Selanjutnya baca sendiri, ya~ WARNING : Consider this as an AU... and some mild swearing (kalo itu bisa dibilang swearing, yeah...)
Under Her Skin "KUTUKUPREEEEET!!!!"
Shimada Kasai merasa hari ini dia sedang sangat sial. Bagaimana tidak? Kouha Kannei, teman sekelas merangkap tukang ojek gratis langganannya, tidak bisa mengantarnya pulang ke asrama gara-gara Harley Davidson kesayangan Kannei bermasalah. Belum lagi sekarang sedang hujan deras, sementara Kasai tidak membawa payung. Lengkap sudah penderitaan cewek, ralat, cowok jejadian itu. Selain isi dompetnya terpaksa berkurang gara-gara harus naik bus, Kasai juga harus menerima nasib pulang terlambat akibat menunggu hujan reda.
Kini Kasai sedang menunggu di halte dengan bete berat. Alih-alih reda, hujan malah semakin menggila. Sekarang angin lebat ikut bertiup, menurunkan mood Kasai hingga ke titik nadir.
SPLAAAAAASHHH!!!
Cipratan genangan air bercampur lumpur yang jadi korban tabrak lari sebuah ferrari putih sukses mengotori seragam Kasai. Insiden itu tak pelak membuat mood Kasai terjun bebas ke titik minus.
"Watdepak!!? Itu supir ferrari sialan beneran ngajak berantem!!" Kasai mengomel frustrasi. Seolah mendengar ucapan Kasai, si ferrari putih mundur dan berhenti di depan cewek yankee itu. Si pengemudi ferrari kemudian muncul dari dalam mobil. Rahang Kasai menganga dan matanya melotot sebal begitu ia mengenali siapa yang bertanggung jawab atas insiden genangan air itu.
"Oh, ada si Sarukichi[1] rupanya," Kobayashi Kae, wanita berusia awal dua puluhan yang baru saja turun dari bangku kemudi ferrari putihnya, terkekeh puas melihat sosok Kasai. Seolah belum cukup membuat Kasai kesal, sekarang Kae juga memakai payung dari kain berenda-renda yang pastinya mahal.
"Woi, Kobuta[2]! Kau mesti bertanggung jawab mencuci bajuku!" amuk Kasai. Kae lagi-lagi terkekeh.
"Justru harusnya kau berterima kasih, Sarukichi. Warna bajumu 'kan tidak jelas gara-gara jarang dicuci. Berkat aku, sekarang warnanya lebih jelas, 'kan?" sahut Kae sambil menjulurkan lidah. Sungguh, sekarang tidak ada yang diinginkan Kasai selain menarik lidah wanita sok di hadapannya itu sampai lepas.
"Oke deh, Sarukichi. Duluan!" sebelum Kasai hilang kendali dan benar-benar menyerang Kae, wanita yang lebih tua itu segera menghilang ke dalam ferrari dan tancap gas. Ferrari itu kini berlari dengan angkuh, tak peduli bodi putihnya dihujani tetes-tetes air kecoklatan.
"KAMPREEEEEEET!!!" Kasai mengomel sambil mencak-mencak. "Kalau bajuku sudah bersih, AKAN KUBUNUH DIAAAAAAA!!!"
Semua orang di sekitar Kasai langsung menyingkir, khawatir mereka jadi sasaran pelampiasan amarah pemuda jejadian itu. Rupanya bukan cuma orang-orang di sekitar Kasai yang takut pada gadis sangar itu. Seolah merasa terintimidasi oleh reaksi Kasai, hujan tiba-tiba mereda dan meninggalkan gerimis ringan yang nyaris tak terasa. Tanpa berpikir untuk berterima kasih pada alam semesta, Kasai langsung angkat kaki dari halte dan melesat ke asrama, masih sambil mengomel.
=0=0=0=
"Middonaito paatii tokai shitate no dansu hooru Kosui na doresu hirahira (A midnight party in a dance hall made by the town Stylish dresses flutter about)"
Bunyi lagu alarm yang tidak biasa di pagi hari perlahan menyeret Kasai dari alam mimpi ke dunia nyata. Gadis itu juga merasa kepalanya luar biasa pusing. Aneh, padahal seingatnya kemarin dia tidur cepat karena kelelahan gara-gara berusaha membersihkan seragamnya. Tidak biasanya ia pusing di pagi hari.
Kasai membuka matanya perlahan. Kamarnya gelap, padahal seingatnya lagi, dia tidur tanpa mematikan lampu kamarnya. Mungkinkah Getsu'ei-sensei yang mematikan lampu kamarnya?
"Masa bodoh... Jam berapa sekarang?"
Lagi-lagi Kasai terkejut. Dia yakin tadi dia sendiri yang bicara, namun suara yang keluar sama sekali bukan suaranya. Di tengah kantuk berat dan sakit kepala yang tak tertahankan, Kasai pun memaksa otaknya untuk bekerja lebih keras dari biasanya. Gadis itu akhirnya sampai pada sebuah pemikiran paling konyol dan mustahil.
"Haha... Masa, 'sih?"
Akan tetapi, hati kecilnya mengatakan bahwa perkiraannya itu benar. Mencoba melawan kata hatinya sendiri, Kasai melangkah menuju cermin terdekat-cermin yang juga tidak pernah dia ingat sejak kapan ada di sana.
Begitu melihat sosoknya di cermin, Kasai menjerit.
Yang ada di hadapannya bukan sosok gadis yankee dengan rambut pendek acak-acakan, melainkan gadis berambut hitam panjang dengan wajah yang (baginya) luar biasa menyebalkan.
Ya, itu sosok Kobayashi Kae!
"TIDAAAAAAAAAAAAAKKKK!!!!"
=0=0=0=
Pada saat yang sama, jeritan yang nyaris sama juga terdengar di salah satu kamar asrama putri Sangokushi Gakuen. Kobayashi Kae baru saja mendapati dirinya berada dalam tubuh Shimada Kasai. Kae tidak habis pikir. Dari semua manusia di dunia, kenapa jiwa Kae harus berada dalam tubuh monyet jejadian yang (menurutnya) tidak mengerti cara hidup wajar di tengah masyarakat kota?
Kae pada akhirnya langsung terpikir pada tubuhnya sendiri. Kalau dia berada di tubuh Kasai, berarti Kasai ada di tubuh--
TOK! TOK! TOK!
"Shimada, ada apa? Kau tak apa-apa?"
Terdengar bunyi ketukan di pintu kamar Kasai, sekaligus pertanyaan dari sekelompok penghuni asrama putri lainnya yang sedang berkumpul di depan pintu kamar. Pertanyaan itu wajar, mengingat Kae baru saja berteriak seperti itu pagi-pagi. Kae pun buru-buru berteriak, "A-Aku nggak apa-apa! Udah, pergi aja sana!"
...yah, dia baru saja berusaha terdengar seperti Kasai, tapi sepertinya gagal. Meski begitu, setidaknya teriakan itu membuat sesama penghuni asrama berhenti menanyainya.
Handphone Kasai tiba-tiba berbunyi. Kae langsung memungut handphone itu dan melihat nama "Kobuta" beserta nomor handphonenya terpampang di display handphone.
"Halo?" ucap Kae sesudah menekan tombol hijau.
"KOBUTAAAAAA!!! KEMBALIKAN BADANKUUUUU!!!" jerit Kasai (dengan suara Kae) di seberang sambungan telepon. Kae tidak menyangka suaranya bisa sekeras ini, membuat telinganya, ralat, telinga Kasai, nyaris tuli.
"Heh, jangan bicara keras-keras!! Sekarang aku sedang memakai telingamu, tahu!" omel Kae. "Aku sendiri juga tidak tahu kenapa bisa begini. Ini bukan gara-gara kau, 'kan?"
"Enak saja kau menuduh!" sahut Kasai, membuat Kae langsung membatin, "Kau sudah lupa apa yang barusan kau lakukan?"
"Baik, baik... Sepertinya kita harus bertemu secepatnya. Hanya saja, tubuhku sudah punya sejumlah jadwal meeting dan jadwal wawancara di pagi hari ini. Lihat saja di agenda yang ada di kamarku. Waktu luangku kira-kira jam dua siang ini. Sampai saat itu, kau harus pura-pura jadi aku dan aku akan pura-pura jadi kau," ucap Kae.
"Jam dua, ya? Hari ini sekolahku libur, jadi kau bebas memakai tubuhku bertemu siapa pun hari ini. Ngomong-ngomong, apa susahnya sih pura-pura jadi kau? Bukannya hidupmu isinya cuma bermalas-malasan sambil membuang-buang uang? Harusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri! Hidup sebagai Shimada Kasai yang keren itu tidak mudah, tahu!" tanya Kasai dengan congkaknya.
"Tenang saja, Nona-Shimada-yang-keren, aku yang manusia normal ini akan berusaha keras untuk hidup sebagai dirimu," sahut Kae dengan suara datar. Mendengar itu, darah Kasai langsung naik ke kepala.
"Awas kalau kau sampai bikin kacau dengan tubuhku!" ancam Kasai. Kae terkekeh, "Tenang saja. Bukannya aku sudah bilang aku akan berusaha hidup sebagai kau? Ngomong-ngomong, kau boleh memakai tubuhku sesukamu. Aku percaya anak ingusan sepertimu pasti tahu batas."
Kasai mengerinyitkan dahi. Saat itulah dia kembali merasakan pusing di kepalanya. "Oi, Kobuta, sekarang aku merasa pusing sekali. Ada apa dengan tubuhmu, hah?"
"Biasa. Aku kebanyakan minum di klub kemarin malam," sahut Kae enteng, membuat Kasai melotot. Kae pun melanjutkan, "Aku cuma minum dan ngomong-ngomong, tidak lebih. Kuharap kau juga tidak terlalu berlebihan dengan tubuhku, oke?"
"Kalau yang kau maksud itu soal cowok-cowok hidung belang di klub, kau tak perlu khawatir. Aku tidak doyan kelayapan di klub malam sepertimu," sahut Kasai. Tawa Kae pun berderai, "Baguslah. Nikmati harimu, Sarukichi! Jam dua nanti aku akan ke rumahmu, maksudku, rumahku. Oke?"
"Oke, oke!" sahut Kasai ketus, lalu menutup telepon. Kae pun menutup telepon sambil menyeringai, "Ya, nikmati harimu~"
Kasai pun membuka agenda Kae di kamar - sekedar ingin tahu aktivitas tidak penting macam apa yang sudah direncanakan si nona besar itu. Dia tadi bilang ada meeting? Paling juga dia janjian belanja bersama sesama sosialita sambil menggosipkan hal-hal tak bermutu...
Mata Kasai langsung melotot begitu dia melihat tulisan di agenda itu: "meeting dengan dewan direksi Kobayashi Corporation - 09.00-12.00" dan "wawancara dengan pihak kepolisian mengenai kasus perampokan di Shibuya - 12.00-14.00". Astaga, si Kobuta ini ternyata sedang punya acara dengan orang-orang penting! Kasai langsung grogi berat. Aduh, orang-orang ini jelas berbeda dengan guru-guru Sangokushi Gakuen yang bisa di-troll sesuka hati. Kalau sampai salah langkah saat berhadapan dengan orang-orang macam ini, mau ditaruh mana muka Kasai yang keren ini? Argh!
Mata Kasai tanpa sengaja tertumbuk pada jam dinding. Sekarang sudah jam setengah 8 pagi. Sepertinya setelah ini dia harus bersiap-siap untuk rapat. Kae tadi tidak berkata apa pun soal ini, bahkan dia meminta Kasai memakai tubuhnya sesukanya, jadi sepertinya itu bukan hal yang terlalu penting. Meskipun begitu, insting Kasai merasa ini tidak bisa diremehkan begitu saja.
"Aaaaaah!!!" Kasai mengacak-acak rambutnya - rambut Kae - dengan frustrasi. "Sudahlah! Tak usah kupikirkan! Bisa-bisanya aku jadi galau begini! Nggak Kasai banget!!"
Kasai akhirnya memutuskan untuk mandi. Gadis itu menuju ke satu-satunya lemari di kamar itu - lemari yang lima kali lebih besar daripada lemarinya di kamar asrama Sangokushi Gakuen - dan terpaku saat mendapati ratusan baju dalam berbagai jenis dan warna terpampang di hadapannya. Merk-merk mentereng macam G**ci, V***ace, dan lain-lain terpampang jelas di baju-baju itu. Sebagian besar baju bermodel terbuka, dengan bahan yang agak ketat dan warna yang cukup mencolok.
"Kampret..." gerutu Kasai. "Aku mesti pakai baju yang mana?"
Karena terlalu bingung dengan pilihan baju yang harus dipakainya, Kasai memutuskan untuk memakai baju yang terlihat paling normal di antara baju-baju bermodel mencolok lainnya: kemeja berkerah putih dan celana jins biru. Gadis itu terkekeh membayangkan penampilan Kae dalam baju yang sangat sederhana itu. Tidak diragukan lagi, penampilan Kae pasti akan konyol sekali dan sangat tidak cocok dengan penampilan biasanya.
Selesai dengan memilih baju, sekarang Kasai berhadapan dengan kamar mandi. Lagi-lagi Kasai melongo melihat kamar mandi raksasa yang lengkap dengan jacuzzi dan sauna. Belum lagi puluhan jenis sabun, shampoo, conditioner, masker rambut, dan alat-alat mandi lainnya berjejer rapi di dekat wastafel yang juga berukuran tak wajar. Tiap-tiap jenis alat mandi masih dibagi dalam berbagai jenis lain, misalnya untuk shampoo, ada shampoo anti ketombe, shampoo anti rontok, shampoo untuk menghaluskan rambut, dan lain-lain. Seumur-umur, belum pernah Kasai merasa cengo waktu di kamar mandi. Enggan direpotkan dengan aktivitas yang biasa dilewatkannya saat terlambat ke sekolah, Kasai pun memilih mandi secara praktis dan konvensional dengan shower plus satu jenis sabun cair yang dipilihnya secara asal. Selesai.
Seusai mandi, Kasai menyambar tas Kae. Setelah memastikan ada dompet di dalam tas itu, Kasai langsung keluar dari kamar. Begitu keluar dari kamar, Kasai langsung merasa dirinya bukan sedang berada di dalam rumah, melainkan di dalam hotel dengan bintang di atas lima. Sebagian lantai rumah Kae berkarpet, dan sebagian lagi berlapis marmer. Langit-langit rumah berbentuk melengkung dengan lukisan dan ukiran-ukiran rumit berwarna emas yang indah. Dinding kiri-kanan dipasang wallpaper emas serta ukiran-ukiran yang berkesan mewah. Tidak lupa lampu-lampu di dinding dan di langit-langit didesain dengan tak kalah indahnya.
"Oke..." Kasai mengurut-urut kepalanya, mulai pusing dengan rumah Kae yang serba besar, "Sekarang aku harus ke mana?"
Kasai kemudian menghabiskan sepuluh menit berikutnya untuk tersesat di sana-sini sambil terkagum-kagum dengan ruangan-ruangan di kediaman keluarga Kae. Gadis itu akhirnya sampai di ruang tamu rumah tersebut. Seperti yang sudah diduga Kasai, ada sebuah chandelier yang mewah tergantung di langit-langit ruang tamu. Seorang pelayan yang sedang membersihkan ruang tamu di sana langsung mendekati Kasai dan membungkuk hormat, "Nona besar Kae, sopir Anda sudah siap mengantar ke kantor."
"Err... Iya, eh, makasih..." sahut Kasai salah tingkah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seumur-umur, belum pernah ada orang yang bersikap sehormat itu padanya.
Pelayan itu kemudian menatap Kae, "Nona, maaf kalau saya lancang bertanya, tetapi kenapa hari ini Nona tidak memakai make up?"
Kasai mengerinyitkan dahi. Untuk ukuran orang yang sering melewatkan waktu mandi, make up seperti makanan dari planet lain. Kasai akhirnya menjawab asal, "Ah, itu, aku lagi tidak mood saja, kok..."
Pelayan itu menyambung, "Kalau Anda sedang tidak ingin merias wajah sendiri, bagaimana kalau saya panggilkan make up artist langganan Anda?"
"Tidak, tidak usah!" Kasai menggeleng cepat. Make up artist langganan... Betul-betul seperti artis saja si Kobuta ini.
"Oh ya, Anda akhirnya memakai baju itu, ya..." si pelayan ternyata belum puas mengomentari Kae, eh, Kasai. "Modelnya memang sederhana tapi cocok untuk Anda. Saya rasa sepuluh juta yen yang Anda keluarkan untuk membeli baju itu sama sekali tidak percuma."
Kasai melotot tanpa dia sadari, "Se-Sepuluh... Juta?" Baju model biasa-biasa saja begini harganya SEPULUH JUTA YEN?
Pelayan itu mengerinyitkan dahi, "Iya. Harganya sepuluh juta yen, bukan? Saya masih ingat dulu Nona membayar kontan saat membeli baju itu."
"Watdepak!!? Sepuluh juta yen dibayar kontan!?" Kasai menjerit dalam hati. Gadis itu kemudian tanpa sengaja melirik cermin yang dipasang di ruangan itu dan melihat sosoknya sekarang. Seandainya hedonisme punya tubuh seperti manusia, wujudnya pasti persis dengan sosok dalam cermin di hadapannya.
Dengan perasaan campur aduk, Kasai akhirnya masuk ke limousin yang sudah menunggunya dan bertolak ke kantor Kae, yakni kantor redaksi koran harian "Nihon Today" yang berada di bawah naungan Kobayashi Corporation. Waktu masih menunjukkan pukul 8.45 saat Kasai tiba di kantor. Di pintu masuk kantor, seorang wanita berambut putih sebahu dengan kemeja V-neck biru berbahan kaos dan celana panjang kain berwarna gelap sudah menunggu Kasai.
"Aku sudah menunggumu. Silakan ke sini," ucap wanita itu dengan tenang. Beda dengan yang lain, wanita ini sepertinya memperlakukan Kasai dengan biasa-biasa saja. Tanpa berkata apa pun, Kasai mengikuti wanita itu naik ke lantai dua. Mereka berdua masuk ke sebuah ruangan yang tampak seperti kantor pribadi. Sesudah mereka berdua masuk, wanita berambut putih itu menyalakan AC dan mengunci pintu. Kasai masih merasa bingung mengapa wanita itu mengunci pintu saat wanita itu kemudian bicara, "Kae sudah menjelaskan semuanya kepadaku. Kau tenang saja. Saat meeting dan saat wawancara nanti, aku yang akan mengambil alih. Meski begitu, kau tetap saja harus mengikutinya."
Kasai melongo, "Jadi... Kau sudah tahu kalau aku bukan Kobu-- maksudku, Kobayashi Kae?"
Wanita berambut putih itu mengangguk. "Ya. Ngomong-ngomong, namaku Fujinaga Yukana, salah satu jurnalis di kantor ini. Tenang saja, kau bisa percaya padaku. Aku tidak akan membocorkan soal ini pada siapa pun."
Sejak bertukar tubuh dengan Kae, belum pernah Kasai merasa selega ini. Akhirnya ada juga orang yang bisa diandalkan. Kasai akhirnya menyadari bahwa menjadi Kobayashi Kae tidak segampang perkiraannya.
"Terima kasih, Fuji, Fuji, eh, namamu siapa tadi?" ucap Kasai tanpa malu-malu. Yukana tersenyum tipis, "Panggil saja Yukana. Kae juga biasa memanggilku begitu."
"Hooo... Kalian sepertinya akrab, sampai sudah saling panggil nama kecil. Kau ini siapanya si Kobuta, sih? Asisten pribadinya, ya? Rasanya aneh aja kalau kau jadi temannya si Kobuta itu. Penampilanmu terlalu sederhana untuk jadi temannya Kobuta. Cewek macam Kobuta pasti cuma berteman dengan penggila make up, gosip, dan belanja," ucap Kasai.
Yukana kini menatap Kasai dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Kae tidak seperti yang kau kira."
Kasai hanya bisa manyun. Sementara itu, Yukana kembali melanjutkan, "Soal pertanyaanmu tentang hubunganku dengan Kae, yah, bisa dibilang kami ini... rival. Tapi hubungan kami lebih baik daripada kelihatannya."
"Rival?" Kasai manyun kuadrat. Rupanya nona besar yang hidup seolah-olah dunia ada di bawah kakinya itu punya seseorang yang dianggapnya rival! Yang lebih mengagetkan, sang rival nona besar itu jauh lebih sederhana! Meski begitu, harus diakui Yukana punya karisma tersendiri yang membuatnya pantas disejajarkan dengan Kae. "Baik. Sekarang sudah hampir jam 9. Bagaimana kalau kita segera ke ruang rapat?" tanya Yukana. Kasai hanya bisa mengangguk.
=0=0=0=
Kasai bersumpah bahwa ia tidak akan jadi jurnalis, apalagi jurnalis yang merangkap petinggi perusahaan seperti Kae dan Yukana.
Rapat dewan direksi Kobayashi Corporation berjalan lancar, meski luar biasa serius dan suram. Rapat itu membahas rencana ekspansi usaha untuk membuka satu lagi redaksi koran di kota lain. Kasai nyaris tidak mengatakan apa-apa. Nyatanya, bisa tetap terjaga selama rapat itu berlangsung saja sudah jadi keajaiban tersendiri bagi Kasai. Selama rapat, Kasai harus mengakui bahwa Yukana menjalankan tugasnya dengan baik. Wanita berambut putih itu tampak sangat memahami masalah yang dibahas dalam rapat. Kasai jadi berpikir seandainya Yukana yang konon merupakan rival Kae itu sudah sehebat ini, bagaimana dengan Kae sendiri?
"Kae sudah dipersiapkan untuk menjadi pewaris perusahaan ini sejak kecil. Isi otaknya tidak sedangkal yang kau kira," jawab Yukana saat Kasai memberanikan diri untuk bertanya pada wanita itu.
Kegiatan dilanjutkan wawancara dengan pihak kepolisian mengenai sebuah kasus perampokan di Shibuya. Sekali lagi Kasai terkagum-kagum dengan profesionalisme Yukana saat melakukan wawancara. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan juga cukup tajam, bahkan ada pertanyaan yang menyinggung pertanggungjawaban kepolisian sehubungan dengan meningkatnya kasus perampokan akhir-akhir ini.
"Yang membuat pertanyaan ini Kae, bukan aku," kembali Yukana menyeletuk saat Kasai tampak terkesima dengan wanita itu.
Wawancara selesai lebih awal pada pukul 13.00. Setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali pada Yukana, Kasai segera kembali ke rumah Kae. Bingung harus menghabiskan waktu di mana, Kasai memilih untuk berdiam di kamar Kae.
Kamar seluas empat kali enam meter yang dilengkapi kamar mandi pribadi itu punya ranjang berukuran besar yang luar biasa empuk dengan tirai di sekelilingnya. Ada satu set PC, laptop, DVD set, karaoke set, dan TV plasma. Tidak lupa ada lemari besar dengan koleksi baju dan aksesoris yang harganya bikin sakit hati. Ada sebuah cermin seukuran tubuh manusia yang dipasang di dekat lemari. Cermin itulah yang tadi pagi digunakan Kasai untuk melihat penampilannya setelah bertukar tubuh pertama kali. Di salah satu sudut ruangan ada sebuah meja rias besar. Satu set peralatan make up serta kosmetik dalam berbagai jenis dan merk berjejer di meja rias, seperti halnya alat-alat mandi di kamar mandi.
Saat mengamat-amati seluruh isi kamar itu, Kasai tanpa sengaja menemukan sebuah gitar akustik yang diletakkan di balik lemari. Gitar itu tampak berantakan, namun sama sekali tidak berdebu. Hal itu sudah cukup untuk menandakan bahwa gitar itu adalah satu-satunya alat yang paling sering digunakan di kamar ini.
Kasai juga berhasil menemukan koleksi CD lagu Kae. Sekilas koleksi CD Kae didominasi lagu-lagu penyanyi terkenal seperti Gackt, Hamasaki Ayumi, AKB48, dan lain-lain. Akan tetapi, Kasai menemukan setumpuk album Amano Tsukiko dan Depapepe yang diletakkan di tempat terpisah dan agak tersembunyi. Dilihat sekilas saja sudah jelas bahwa kumpulan CD di tempat tersembunyi itulah yang paling sering disetel.
Penemuan-penemuan itu membuat Kasai menyadari bahwa Kae tidak sama persis dengan perkiraannya. Wanita itu memang hedonis, tetapi ada sisi pemberontak dalam diri wanita itu. Sisi pemberontak itu sepertinya dikunci rapat-rapat, bahkan cenderung tidak diindahkan. Bagi tipe pemberontak seperti Kasai, hal ini sesuatu yang patut disayangkan.
Tiba-tiba saja Kasai tergelitik untuk melihat isi handphone Kae. Biasanya handphone memang sasaran paling empuk untuk mengerjai seseorang. Kasai memulai "penjelajahan"nya dengan melihat inbox handphone Kae. Tidak ada yang istimewa di sana, kecuali percakapan yang agak panjang dan aneh dengan seorang pria bernama Soejima. Kasai tidak bisa memastikan apakah pria itu adalah potential love interest, saudara dekat, atau guru spiritual Kae. Selanjutnya Kasai beralih ke gallery. Di sana hanya ada foto-foto makanan dan foto-foto candid rekan kerja Kae. Yukana merupakan objek yang paling sering muncul di foto Kae. Akan tetapi, Yukana yang ada di foto-foto itu bukanlah Yukana yang tenang, profesional, dan karismatik seperti yang ditemui Kasai, melainkan Yukana yang kekanakan dan sering malu-malu jika berada di dekat seorang pria yang sepertinya adalah detektif polisi. Kasai tidak menyangka wanita macam Yukana ternyata seorang tsundere[3].
Puas dengan isi gallery Kae, Kasai kini menjelajahi music. Isi folder music Kae paling absurd dibanding lainnya. Hanya ada satu lagu di sana: "Ningyou" (Mermaid) yang dinyanyikan Amano Tsukiko. Kasai mengerinyitkan dahi. Seingat dia, dulu dia pernah mendengar lagu AKB48 berkumandang dari handphone Kae ini. Mungkinkah lagu-lagu itu sudah dihapus?
Penasaran, Kasai akhirnya menyalakan satu-satunya lagu yang tersisa itu. Rupanya lagu itulah yang membangunkannya pagi tadi. Kasai mendengarkan lagu itu dengan khusuk. Lagu itu rupanya merupakan bukti tak terbantahkan yang membenarkan seluruh dugaan Kasai tentang Kae.
"Watashi no ane wa maameido sujikaneriri no maameido Oroka na onna oroka na onna Sono chi wo tsugu watashi mo ningyo sono chi wo tsugu watashi mo ningyo Oroka na watashi mo oroka na onna (My older sister is a mermaid, a mermaid to the core Stupid girl, stupid girl And I, too, am a mermaid by blood; I, too, am a mermaid by blood Stupid me, stupid girl)"
Kasai menghela napas tanpa ia sadari. Tidak biasanya ia bereaksi cepat dengan lirik-lirik lagu. Mendengar lagu ini dari handphone Kae, di kamar Kae, dan dengan telinga Kae membuat Kasai sedikit banyak mengerti perasaan wanita itu.
Tidak salah lagi, Kae sudah lelah dengan status keluarganya dan dengan segala yang ia miliki. Ia sudah muak dengan irama hidup dan masa depan yang serba diatur untuk menjadi sesempurna mungkin.
"Kyuukutsu na uroko wo nuide shimaetara Hadashi de umibe wo toberu anata no te wo totte Era kokyuu ja nai shinkai ni sumu jinshu de Chotto dake sakana jimiteru dake (If I could take off this restrictive shell I’ll run barefoot up the beach and take your hand I’m not breathing wrong, I’m just being a little like a fish With the people who live deep under the sea)"
Gitar, CD lagu, foto-foto gallery, lirik lagu yang didengar Kasai... Bukti-bukti kecil itu menyimpan jeritan bisu Kae untuk keluar dari segalanya. Akan tetapi, wanita itu tidak punya jalan keluar.
"Oroka na onna, kono mi ga horobitemo ii yo (Stupid girl, I don't care if our bloodline dies out)"
Biasanya orang-orang seperti itu... akan mulai tertarik untuk mati....
TOK! TOK! TOK!!
"Nona besar, ada yang ingin bertemu dengan Anda di bawah."
Panggilan dari pelayan Kae itu membuat Kasai tersentak. Setelah mematikan lagu, ia cepat-cepat keluar dari kamar.
=0=0=0=
"Hai, Sarukichi!"
Kasai tidak pernah menyangka sosoknya akan jadi seperti ini. Yankee gembelnista yang biasa jadi buronan guru-guru Sangokushi Gakuen itu kini disulap oleh Kae menjadi yankee fashionista yang cukup sedap dipandang. Kae cukup tahu diri untuk berdandan secara beradab tanpa menghilangkan ciri khas seorang Shimada Kasai dalam tubuh yang sedang ditumpanginya.
"Sori, rambutmu kurapikan sedikit di salon, terus kuberi gel. Gel-nya pinjam dari kamar sebelah, sih... Nyaris saja aku beli gel seandainya aku tidak memeriksa dompetmu dulu. Di kamarmu banyak aksesoris keren yang jarang kau pakai, jadi sekarang aku memakai semuanya. Tank top yang kupakai sekarang ini kutemukan nyangkut di dasar lemari baju dalam keadaan terlipat-lipat. Setelah diseterika dan dipakai dengan aksesoris-aksesorismu, ternyata oke juga, lho!" Kae berceloteh panjang lebar tentang penampilannya sekarang. Dari celotehan panjang Kae itu, sebenarnya hanya ada satu kalimat tersirat yang ingin disampaikan: kau-harus-bisa-berdandan-dengan-lebih-manusiawi.
"Oke, Kobuta. Aku tidak ingin mendengar ceramah fashionmu sekarang. Lebih baik kita berpikir bagaimana cara untuk kembali ke tubuh masing-masing," ujar Kasai. Dibandingkan sebelumnya, cara bicara Kasai pada Kae kini jauh lebih simpatik.
Kae mengerjapkan matanya, "Kenapa begitu? Sebenarnya maksudku bertemu denganmu sekarang untuk minta izin supaya aku boleh memakai tubuhmu lebih lama."
"WATDEPAK!!?" Kasai menjerit.
Kae hanya nyengir saat ia melanjutkan, "Memang benar katamu kalau hidup sebagai Shimada Kasai itu tidak mudah. Bahkan meski aku sudah berlaku baik-baik, aku masih dikejar guru-gurumu, tahu tidak? Tetapi kehidupanmu sangat menyenangkan dan praktis. Cuma ada satu jenis sabun dan shampoo yang tersedia untuk mandi. Selain itu, baju-baju dan aksesorismu juga asyik untuk dipadupadankan. Oh ya, aku langsung cocok dengan teman-temanmu! Cowok megane, cowok bokep, cowok Harley, dan cowok kuil itu boleh juga! Sayang juga sih kau tidak punya teman cewek...."
Kasai kembali melongo, untuk yang ke sekian kalinya dalam hari ini. Meski Kasai sendiri sebenarnya bangga dengan cara hidupnya, sebagian besar orang memandangnya sebelah mata, terutama guru-guru di Sangokushi Gakuen. Tidak ada seorang pun orang yang mau hidup seperti Kasai, setidaknya sampai seorang nona besar mematahkan anggapan itu. Yang lebih ironis lagi, orang yang berkata bahwa ia ingin hidup seperti Kasai itu justru memiliki segala sesuatu yang tidak dimiliki Kasai.
Kasai merasa ia tidak bisa lagi memperkirakan seberapa kosongnya kehidupan Kae, sampai-sampai wanita itu mendambakan kehidupan yang tidak diharapkan banyak orang.
Akan tetapi, Kasai mulai mengerti bahwa wanita yang berkata-kata dengan penuh antusiasme di matanya, ralat, mata Kasai itu jauh dari kata buruk.
Dia hanya butuh jalan keluar, dan jalan keluar itu tidak bisa dibuka olehnya sendirian.
"...kalau dipikir-pikir, kita bertukar tubuh dengan sendirinya. Kurasa kita akan kembali dengan sendirinya," ucap Kasai pelan. "Tapi satu yang pasti, aku mau minta maaf karena selama ini sudah salah sangka padamu. Hidup selama beberapa jam dengan tubuhmu membuatku mengetahui bahwa aku tidak tahu apa-apa tentangmu."
"Ah, aku juga mau bilang begitu!" seru Kae sambil terbahak. "Yah, aku tetap tidak bisa bilang bahwa kebiasaan jorokmu itu baik, tapi setelah menjalani hidup sebagai dirimu, harus kuakui bahwa cara hidupmu yang tidak tunduk pada aturan-aturan dangkal itu keren! Aku ingin hidup seperti itu!"
Kasai kini terkekeh, "Cuma aku yang bisa hidup seperti itu, tahu! Dan sebenarnya, cuma kamu yang bisa hidup sebagai dirimu sendiri! Kau masih punya Yukana, tahu? Dia itu teman yang hebat!"
Kae melengos, "Dia rivalku, bukan temanku."
"Bohong. Buat apa kau menyimpan foto-fotonya kalau dia bukan temanmu?" tanya Kasai penuh selidik.
"Aku hanya ingin mencari kelemahannya," sahut Kae dengan keras kepala.
"Terserah kaulah." sahut Kasai pendek. "Kurasa pertemuan kita cukup sampai di sini. Mumpung masih ada waktu, nikmatilah hidup sebagai Shimada Kasai yang keren!"
"Kau juga nikmati hidupmu, yah. Sekali lagi, kupegang kata-katamu soal tidak-doyan-kelayapan-di-klub-malam," ucap Kae sambil menyeringai. "Izinkan aku menginap di asramamu semalam lagi, ya?"
"Harusnya aku yang bilang begitu!" sahut Kasai sambil terbahak. "Aku mau menjajah kamarmu semalam lagi!"
"Oke, oke. Sesukamu saja. Aku pergi dulu!" Kae pun meninggalkan Kasai.
Kasai sekali lagi tidak pernah menyangka tubuhnya bisa berjalan seringan dan sebahagia saat ini. Gadis itu punya firasat kuat bahwa esok pagi semuanya akan kembali seperti sedia kala. Dia akan mendapati dirinya di asrama putri Sangokushi Gakuen dan Kae akan terbangun di kamar super mewahnya.
Satu yang pasti berbeda, Kasai tidak akan lagi membiarkan Kae mencari jalan keluarnya sendirian.
=0=0=0=
Glosarium: [1]Sarukichi: perpaduan Saru (monyet) dan Monkichi. Panggilan “sayang” Kae untuk Kasai. Ehehehe~ [2]Kobuta: babi (bahasa Jepang); plesetan dari "Kobayashi". [3]Yup, Yukana itu tsundere (karena original character-nya, Ishikawa Yuu, juga tsundere). Tipe B, lebih tepatnya.
Humm, dari dulu saya pengen banget ngepublish ini di KOEIndo, tapi baru kesampaian sekarang... Oke deh, ceritanya ini giftfic yang saya bikin untuk Za AKA kaibutsu setahun lalu ^^
Saya yakin Kasai pasti OOC gak ketolongan di sini. Maaf banget... Tujuan saya menulis ini cuma satu sebenernya: saya pengen ngasih lebih banyak data soal Kae, sekaligus ingin mengeksplor karakternya. Kae dan Huang Ling punya karakterisasi yang serupa tapi tak sama, dan saya sendiri merasa agak tricky untuk mengembangkan mereka. Thanks for reading!!
DISCLAIMER: Kobayashi Kae is mine. Shimada Kasai is Za's. Fujinaga Yukana is a semi-OC of mine, based on Ishikawa Yuu and Fujikawa Yukari (Fengxiao's OCs). Hieru Kou (mentioned) is Ajeng's. Guan Ping (Unchou Kanpei), Lu Xun (Hakugen Rikuson), and Gan Ning (Kouha Kannei), all of them mentioned, are TecmoKoei's. Soejima is a semi-OC of mine, based on an OC in KOEIndo RP ^^ Sanada Yukihiko (mentioned) is an OC of mine based on Sanada Yukimura (TecmoKoei’s) and Sanada Akihiko (Atlus’). LOOOOL.
|