Welcome Guest [Log In] [Register]
ANNOUNCEMENT BOX

GUIDE


Welcome to KOEIndo!

Di sini kita bisa mengobrol soal Games nya Koei sepuasnya, dari Dynasty Warrior, Samurai Warrior dan lain-lain. Selain ngobrol kalian juga bisa berole-play, memainkan games, bikin topik seru, curhat dll, dst, ect.

Dan sekarang, bagi para member anda bisa mendownload beberapa konten mengenai Koei yang sudah kami sediakan ^^

Silahkan Join our community! ^^

Bagi kalian yang sudah bergabung. Ayo Log in dan ramaikan Forum ini ^^

----------------------------------

Follow update dari game-game terbaru koei:

Dynasty Warrior 9
Samurai Warriors: Sanada Maru
Warrior All Stars

ROLEPLAY


Welcome to KOEIndo. We hope you enjoy your visit.


You're currently viewing our forum as a guest. This means you are limited to certain areas of the board and there are some features you can't use. If you join our community, you'll be able to access member-only sections, and use many member-only features such as customizing your profile, sending personal messages, and voting in polls. Registration is simple, fast, and completely free.


Join our community!


If you're already a member please log in to your account to access all of our features:

Username:   Password:
Add Reply
Last time.; Orific, about Nanjing's Massacre.
Topic Started: Oct 19 2012, 07:19 AM (539 Views)
tungpangtungjes
Member Avatar
yawda senyumin yes kk
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Story Type: Ori-Fiction
Language: Indonesia
Rating: Rate T
Genre: Angst, Tragedy.
Summary: Ia tersenyum, menengadahkan kepala. Menatap langit dengan mata yang tergenang oleh air mata. Ia telah siap, untuk menghadapi ajalnya.
WARRNING: Mungkin agak terkesan sadis... Eh?

Quote:
 

Nanjing, China, Januari 1938.

Zhang Lanyu mengepakkan kelopak matanya perlahan-lahan. Suara tangisan beberapa orang yang menggema membuatnya berhenti menyelami alam mimpi. Yang pertama ia lihat adalah langit-langit ruangan yang begitu kusam.

Gadis itu bangun dengan kepayahan, berkali-kali ia mengerjapkan matanya. Saat ia berhasil mengumpulkan seluruh kesadaran dirinya, Lanyu melihat ke sekelilingnya.

Di sinilah ia berada. Ruang para tawanan wanita. Selama hampir enam minggu, ia mendekam di ruangan yang kumuh ini. Ia ditangkap oleh tentara-tentara Jepang--yang saat itu, menginvasi kota Nanjing--saat hendak melarikan diri bersama ayahnya, Zhang Pu. Selepas itu, ia dikurung.

Ia masih ingat, saat dirinya hendak ditangkap enam minggu lalu, ayahnya dibunuh di depan matanya. Tusukan bayonet para tentara Jepang itu menghunjam tubuh ayahnya tanpa ampun. Lanyu berteriak histeris, menyaksikan tubuh sang Ayah terluka, dan darah mengucur deras di setiap luka tusukan. Setelah itu, ia dipaksa para tentara Jepang untuk meninggalkan ayahnya sendiri, seorang diri. Dalam keadaan mati tak bernyawa.

Bukan hanya dirinya yang bernasib nahas seperti ini. Banyak penduduk Nanjing yang tak sempat lari, mengalami hal serupa seperti dirinya. Lelaki, perempuan, serta anak-anak dikurung di ruangan yang berbeda-beda, secara terpisah. Beberapa tawanan ada yang dibunuh dengan cara ditusuk menggunakan bayonet, dibakar, dipenggal, dan masih banyak lagi. Para perempuan lebih nahas lagi. Mereka--terutama yang cantik jelita--dimasukkan ke dalam rumah bordil dan dijadikan pemuas nafsu bejat para tentara Jepang. Lanyu bersyukur, ia bukan dari salah satu wanita yang bernasib seperti itu. Paling tidak, hingga saat ini, ia masih bisa mempertahankan harta satu-satunya yang ia miliki. Keperawanan.

"Lanyu, kau sudah bangun? Sudah malam hari, lho."

Lanyu menoleh pada suara yang menanyakan dirinya. Meiling, perempuan berambut pender sebahu itu duduk di sebelahnya. Pakaiannya compang-camping - sama seperti Lanyu. Mukanya dipenuhi darah yang mengering serta mengeluarkan bau amis.

"Meiling?" Lanyu menggoyangkan kepalanya dengan berat. Saat melihat kondisi kawannya itu, ia memekik. "Astaga! Apa yang mereka lakukan padamu?!"

"Tidak apa-apa," sahut Meiling dengan riang - sungguh, Lanyu heran mengapa di saat seperti ini gadis itu masih bisa bersikap riang. "mereka hanya memecutku dengan bambu."

"Hanya katamu?" Lanyu membelalakkan matanya. "Demi Tuhan! Mukamu berdarah seperti ini!"

"Sudah kubilang, aku tidak apa-apa." Meiling menepuk-nepuk pundak Lanyu. "Nasibku jauh lebih baik daripada Yi Ling."

"Yi Ling? Mengapa?"

"Dia..." Meiling menghela napas sebentar. "Ia diperkosa beberapa tentara Jepang secara bergilir, saat engkau tidur. Tian, teriakan Yi Ling masih terbayang di kepalaku tadi... Begitu menyayat sekali!" tutur Meiling dengan sedih.

"Dan di manakah ia saat ini?"

"Entahlah." Meiling mengangkat bahu. "Mungkin dibuang.... Semoga saja ia tidak apa-apa. Kuharap aku bisa menemui dirinya kembali, untuk terakhir kalinya...."

Lanyu terdiam. Oh, betapa nahasnya - dibuang setelah dinikmati, layaknya seonggok sampah-

Tunggu. Terakhir kalinya?

"Meiling, apa maksudmu dengan 'terakhir kalinya'?" tanya Lanyu dengan panik.

Meiling menggigit bibirnya, "Besok - kita semua akan dibantai. Di pinggir sungai Yangtze." ujarnya lirih.

Lanyu terkejut begitu mendengarnya. Beberapa detik kemudian, air mata menggenang di pelupuk matanya, berjatuhan dan membasahi pipinya. Demi Tuhan, besok ia dan yang lainnya akan dibantai! Siapa yang tidak takut mendengarnya?

Dan saat ini ia tinggal menghitung detik demi detik, menunggu dirinya mampus esok hari.

Masih teringat dalam memori Lanyu, sebelum semua ini terjadi. Ia adalah anak dari keluarga menengah atas. Dulu, setiap hari ia menggunakan pakaian yang sangat mahal harganya, serta selalu makan enak tiap hari. Apapun keinginannya, selalu dituruti. Kekayaan ayahnya begitu mensejahterakan dirinya.

Kekayaan itulah yang membuat dirinya sombong kala itu. Bertingkah layaknya seorang penguasa, ia menindas budak-budaknya, menggunakan uangnya hanya untuk berdandan dan bersenang-senang saja. Menghabiskannya demi hal-hal yang tidak berguna.

Mungkinkah yang ia alami saat ini... Adalah karma dari Tuhan?

Ah... Lanyu menyesal. Sangat menyesal.

Mengapa ia suka congkak?

Padahal ia hanyalah seorang sampah!

Sampah yang akan menyatu dengan tanah, sebentar lagi.

"Bodoh..." ujarnya terisak-isak. Meiling berusaha menenangkan Lanyu, namun tidak bisa. Tangisan Lanyu tak kunjung reda. Beberapa perempuan yang melihat Lanyu menangis, ikut-ikutan menangis. Semuanya saling bersahutan, menjadi seperti iringan tangisan.

"Teman-teman... Berhentilah! Kumohon!" seru Meiling, mencoba menghentikan tangisan mereka. Tidak reda juga, bahkan semakin keras.

Lanyu begitu menyesali perbuatannya selama ini. Namun, apa daya dirinya. Ia hanya bisa pasrah, menerima nasib.

----

Esok hari.

Semua tawanan--laki-laki, perempuan, serta anak-anak--berkumpul di pinggir sungai Yangtze. Mereka disususn dalam beberapa baris yang teratur, dari baris pertama hingga terakhir. Ada yang pasrah, ada yang menengadahkan kepala, ada yang berteriak ketakutan.

Sebab hari ini, mereka semua akan dipenggal.

Zhang Lanyu berdiri paling depan diantara semuanya. Matanya menatap kosong para tentara yang masing-masing membawa pedang samurai--yang akan melepaskan kepalanya dari tubuh. Sang komandan sendiri, berteriak--menggunakan bahasa jepang, sehingga para tawanan yang notabene orang-orang Cina, tidak mengerti--agar anak buahnya tidak takut dan tidak ragu saat mememenggal kepala para tawanan. "Anggaplah engkau memenggal kepala binatang!" seru si Komandan.

"Pstt, Lanyu." Meiling yang berada di belakangnya, berbisik pada Lanyu.

"Ya?"

"Pedangnya terlihat tajam, ya..."

"...begitulah."

"Kau takut, Lanyu?"

Lanyu tersenyum getir. "Tentu, aku takut. Ajalku telah tiba, siap menjemputku. Kau sendiri, Meiling?"

"Aku takut sekali, Lanyu. Tapi, tidak apa-apa. Toh, kematian bukanlah sesuatu yang ditakuti. Setiap makhluk yang bernyawa, pasti akan mati, bukan?"

Di saat seperti ini, perkataan Meiling terdengar bijaksana sekali. "Benar.." Lanyu mengangguk.

Suara peluru yang ditembakkan sang Komandan ke atas membuat para tawanan yang ricuh menjadi terdiam. Sang Komandan menyuruh seorang tentara berbadan gempal yang memegang sebilah pedang, untuk memberi contoh kepada yang lainnya.

Lanyu yang berada paling depanlah, yang akan dipenggal untuk pertama kalinya. Ia mengerling pada Meiling yang menatapnya dengar mata berkaca-kaca sebelum maju dengan langkah gontai. Ia ditendang oleh si tentara berbadan gempaln kemudian diminta untuk duduk berlutut dengan tangan terikat ke belakang.

"Lakukan! Cepat lakukan, tolol!" Bentak si Komandan, tidak sabaran.

Lanyu memejamkan matanya, menahan tangis. Ia tak ingin menatap pedang yang akan menebas kepalanya. Jauh di lubuk hatinya, ia hanya berharap - semoga, takkan ada lagi anak yang bernasib seperti dirinya. Semoga.

Ia tersenyum, menengadahkan kepala. Menatap langit dengan mata yang tergenang oleh air mata. Ia telah siap, untuk menghadapi ajalnya.

Tentara berbadan gempal itu mengangkat pedangnya, bersiap untuk menebas kepala Lanyu, dan...

CRASH!

...Kepala Lanyu putus, dan jatuh menggelinding. Darahnya membasahi tanah, menyebarkan bau amis. Tak ada jerit kesakitan, ia hanya terdiam.


Pembantaian Nanjing, merupakan tragedi pembantaian yang dilakukan oleh pihak militer Jepang di kota Nanjing. Pembantaian ini terjadi selama enam minggu. Konon, akibat pembantaian ini, banyak orang Cina yang menyimpan rasa ketidaksukaan terhadap orang-orang Jepang - hingga saat ini. Untuk informasi lebih lanjut, kawan-kawan KLI bisa membaca buku Rape of Nanking yang dibuat oleh Irish Chang (demi apa, saya gak berani baca!) atau search di internet.

Demi apa, ngapain saya buat cerita kayak gini--tapi sumpah lo, saya bergidik pas baca artike tentang Nanjing Massacre. Sadis banget, pembunuhan serta pemerkosaan masal terjadi!

Well, daripada saya banyak bacot, udahan ah. Apresiasi anda mengenai orific gila saya akan saya hargai :D
Anyway, saya kepengen upload fanfic DW ke sini~~
Edited by tungpangtungjes, Oct 19 2012, 07:27 AM.
Posted Image

"mereka yang mereka-reka,
tuan dan puan,
kepala macam kelapa tanpa air,
beriaklah tanya tanpa esensi:
jatuh cinta atau cinta jatuh?"


Instagram | FFn (1) | FFn (2) | tumblr
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ajeng
Member Avatar
nyeri leher ya pak.
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Abis baca artikel Nanjing, dan reaksi saya O__O Jujur saya belum pernah tau ada konflik Cina - Jepang sejarah remed terus

Feeling angst-nya dapet kalo menurut saya. Kebayang banget gimana bejatnya tentara Jepang jaman WW II.

Pesan moral : Penyesalan memang selalu datang terlambat :')
Posted Image
"You hoped they would survive as well, did you not?"

AO3
FFN
tumblr 1 / tumblr 2
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Mocca-Marocchi
Member Avatar
Art by @moa810 on twitter
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Yuhuuu~ Bagus banget orificnya, atuh....

Hoh, sebenernya di Indonesia juga ada yang semacam ini. Di Indonesia dulu ada sepuluh ribu orang cewek yang dijadikan budak seks tentara Jepang. Begitulah perang... dan saya lagidanlagidanlagi merasa bersalah dengan semua postingan di RP saya. :why: Kayaknya saya harus memperbarui POV karakter-karakter saya deh... Saya merasa POV saya di situ sangat memengaruhi pandangan saya terhadap perang...

Tiba-tiba saya merasa generasi kita yang terlalu lama mabuk kedamaian ini bisa jadi benar-benar memicu perang di masa depan, entah kenapa...
Posted Image
Thanks to S.M.A for the signature!
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
tungpangtungjes
Member Avatar
yawda senyumin yes kk
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Ajeng: yeah, memang ada konflik Jepang - China saat dinasti terakhir China, Dinasti Qing. Tapi bukan hanya China aja yang nyimpan dendam sama Jepang, Korea juga (kalau gak salah, Ratu Min dari Korea dibakar hidup-hidup sama tentara Jepang).

Yeah, penyesalan datang terlambat :"|

Mocca-senpai: Makasih! 8"D
Maksud senpai, Jugun Ianfu? Ooh, kalau itu saya sendiri juga miris banget bacanya, katanya yang kembali cuma beberapa ratus orang aja, hiks. Yah, pada intinya perang itu hanya membawa petaka.

Well, saya juga pernah ngerasa gitu sih :/ apalagi bangsa Indonesia sekarang udah 'keras kepala' di mata saya...
Posted Image

"mereka yang mereka-reka,
tuan dan puan,
kepala macam kelapa tanpa air,
beriaklah tanya tanpa esensi:
jatuh cinta atau cinta jatuh?"


Instagram | FFn (1) | FFn (2) | tumblr
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
PyroMystic
Member Avatar
Saya cuma pengen liat dua orang ini bahagia. SUER!
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Saya baru baca fanfic ini dan sumpah saya kagum berat~~~~

NYAAAA~~~ bener2 nggak nyangka di zaman ini masih ada juga yang suka sejarah~~~ Yups, saya udah tau bener mengenai Rape of Nanking (Nanjing) selain karena keluarga saya China totok, saya juga pernah ke Nanjing dimana kejadian itu terjadi.

Mengenai buku Rape of Nanking, jujur saya nggak berani baca karena... jangankan Rape of Nanking, baca bukunya Agatha Christie aja saya nggak bisa tidur plus kepikiran semaleman~ Tapi pernah sekali karena suatu ketidaksengajaan, pas di bis pas saya holiday di China, ada film ‘Man Behind the Sun’ yang di puter. Bukan mengenai Rape of Nanking, sih... tapi tetep tentang kekejaman Jepang.

Mengenai Nanjing, saya malah denger katanya Massacre itu dijadikan ajang dua orang jendral ato panglima (saya lupa) Jepang untuk kontes adu banyak2an bunuh orang
WARNING! JAPAN LOVERS DON’T READ THIS!

That’s it mengenai sejarah~

Mengenai ceritanya, sangat keren dan menarik! ^^ Bagi saya, ini sesuatu yang baru dan sangat fresh di kalangan para anak muda kayak kita2 yang kebanyakan ceritanya kurang menyampaikan value. Kalo saya perhatikan, di cerita anda ada banyak nilai2, misalnya: Nilai historis, nilai moral, nilai hukum. Ini keren bangeeeeettttt~~~ :goodjob: :goodjob: :goodjob: :goodjob:

Well, saya punya satu saran, sih... Boleh diabaikan, kok... ^^

Bagi saya, kalimat pertama dan kedua di paragraf terakhir yang fungsinya untuk menutup cerita itu agak... errr... lugas. Nggak apa sih kalo itu emang keinginan saya. Tapi kok rasanya... well... lebih baik cuma pake kalimat ketiga itu aja udah cukup menjelaskan apa yang terjadi pada Lanyu, kok... ^^

Trus, saya agak heran juga mengenai si Lanyu... Kenapa kok dia nggak jadi korban pemerkosaan maupun kekerasan sampe seextreme dua temennya? Well, bukannya nggak boleh. Cuma rasanya aneh juga kalo anda udah menekankan mengenai Lanyu yang menyesali kesombongan masa lalunya yang berdampak dia ditawan, tapi nasibnya jauh lebih mendingan daripada dua temennya... Kalo menurut saya, mungkin anda mau mengurangi adegan yang... mature... secara gamblang. So harusnya, epilognya pas Lanyu dibunuh... Errr... jangan terlalu gamblang juga, sih...

Ehehehe... tapi ini saran saya doank~ ^^ Wkwkwkw...

JANGAN DIBUKA!

Posted Image
“This is a good medicine. I mixed it only recently. With your illness, you must take it promptly.”
-- Yang Hu to Lu Kang, Sanguozhi --
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
tungpangtungjes
Member Avatar
yawda senyumin yes kk
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
@Pyro-senpai huoh, saya terharu author se-gape anda mau menuangkan aspirasi anda di sini 8') Hehe, iya, saya ini maniak sejarah, apalagi mengenai negara-negara Asia xDD

Mengenai buku Rape of Nanking.. Jujur, saya penasaran banget sama isinya. Cuma, ada temen saya yang juga suka sejarah, bilang, "siapin mental kalau mau baca itu buku."
Walhasil niat saya mau baca buku itu malah langsung kempes.. Yah, tapi ndak apalah, toh dari internet juga banyak 8D
Fakta mengenai kepengecutan Jepang, saya juga udah tau dan saya mengakui bahwa jeppang itu gak se-perfect yang kita semua kira. Tapi, menurut saya, mungkin sih ini karma bagi orang-orang China, soalnya (katanya) zaman dulu orang-orang China beranggapan bahwa peradaban Cina sudah sedemikian tinggi sehingga tak seorang pun akan terpikir untuk melawan (saya ambil kata-kata ini dari buku Empress Orchid karya Anchee Min).

But, yang sudah lalu biarkan saja berlalu :'D yang penting, kejadian lalu jangan sampai terulang.

Mengenai kritiknya.. Huaaa, makasih! ><
Ahaha - kalau soal Lanyu, memang sengaja gak saya jadiin korban pemerkosaan, soalnya ya itu, takut ratingnya naik ^^; lagian, Lanyu ini gak cakep-cakep amat~~ /dor
Oh, masalah nama Lanyu, itu saya ambil (atau tepatnya, minjem) dari nama Permaisuri kaisar Guang-Hsu dari dinasti Qing, Permaisuri Lanyu. Dan artinya juga beda kok, senpai - artiya 'kekayaan mulia' XDD
Anyway, thanks buat semua saran dan kritiknya! dan maap saya jadi blabbering masalah sejarah
Posted Image

"mereka yang mereka-reka,
tuan dan puan,
kepala macam kelapa tanpa air,
beriaklah tanya tanpa esensi:
jatuh cinta atau cinta jatuh?"


Instagram | FFn (1) | FFn (2) | tumblr
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ezio Auditore

[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
AKu udah pernah baca ini sebelum hari ini, tapi kok aku belom comment ya di sini?

aku suka banget sama ceritanya. Mirip titanic, mendeskripsikan sejarah dengan akurat plus bumbu cerita yang sangat krusial dan menarik, jadi ga cuma cerita sejarah doank.

Aku ga ngerti soal seni menulis, aku ga ngerti sejarah Nanjing Masacre ini, but i salute you.
Posted Image
"You know, if there is one thing I've learned, it's that we must obey the rules of the game. We can pick the game, but we cannot change the rules."
Posted Image
Posted Image
Posted Image
Fanbars credit goes to Daikyo and Zhongda "Sima Yi".
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Nagase
Member Avatar
Hmmmm
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
storynya bagus! Rasanya benar2 dibuat masuk kedalam pikiran dan perasaan Zhang Lanyu ini sendiri. Pilihanmu untuk buat story berdasarkan sejarah bagus banget. Siapa sih yang ga bakal tertarik buat belajar lebih dalam tentang sejarah kalo cara penyampaiannya kayak gini? <3
Posted Image
"How long can you stand my attacks?"
- Lili Rochefort of Tekken -

Wordpress
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
« Previous Topic · Orific Land · Next Topic »
Add Reply