Angin berhembus, menendang debu tanah sambil memandangnya hina. Matahari terbahak-bahak, menguarkan napas panasnya yang makin menyengat. Pepohonan melambaikan dedaunannya, menari lembut tanpa ambil pusing. Sandiwara alam berlangsung egois, menyisakan aku sebagai saksi bisu.
Mungkin hanya aku yang merasa terkucil oleh kenyataan. Langit yang menggantung dan bumi yang kupijak seolah berada di dunia lain. Sejak hari itu, aku merasa tidak lagi berhak untuk hidup sebagaimana makhluk lain. Rasanya aneh mengakui bahwa aku masihlah seorang manusia.
Jika sudah begini, kurasa sah saja aku mulai tertarik dengan kematian. Apa gunanya hidup jika keberadaan tak lagi bermakna? Apa gunanya hidup jika setiap milimeter kubik udara yang kau hirup terasa menyesakkan? Apa gunanya hidup jika satu-satunya hal yang mengisi hatimu adalah kekosongan?
Meski begitu, aku tidak tertarik untuk bunuh diri. Kematian begitu indah hingga aku merasa sayang untuk menjemputnya lebih dulu. Ia tahu kapan harus datang dan kapan harus pergi. Hanya dia satu-satunya yang kupercaya sekarang...
Bohong!Tiba-tiba pemandangan sekelilingku seolah membeku. Angin berhenti bertiup. Dedaunan berhenti bergerak. Matahari kini menatapku tajam. Mereka semua seolah berteriak kepadaku.
Bohong!Tubuhku mulai gemetar. Kenapa kalian berkata begitu? Aku tidak berbohong. Seharusnya kalianlah yang paling tahu.
Bohong!Suara itu semakin keras. Akhirnya aku menyadari suara itu terdengar dari dalam hatiku. Aku langsung memejamkan mataku, meski mataku sudah dan akan terus tertutup. Tidak. Aku tidak bohong. Tidak bohong.
Bohong!Cukup. Hentikan.
BOHONG!HENTIKAN!!
Me wo tojite
Mitakunai mono nado minakute ii kara
Iikikasete kokoro o sogiotoshita
I closed my eyes
Telling myself I didn’t have to look at what I didn’t want to
To avoid what was in my heart
Aku langsung terbangun dengan peluh di sekujur tubuh. Kurasa aku baru saja bermimpi buruk, tapi apa mimpiku barusan? Aku sama sekali tidak ingat... Aduh, apa ya? Kenapa tidak ada yang muncul di kepalaku?
"Woi, Huang Ling! Mau tidur sampai kapan!?" seorang pria berambut coklat gelap masuk ke kamarku tanpa permisi. Spontan aku menjerit.
"AAAAAAAHH!! HIDUNG BELANG! MESUM! TAK TAHU ADAT!!" aku melemparkan benda-benda di kamarku untuk mengusir pria itu, "PERGI KAU! PERGI KAAAAAAAAUUU!!"
"HEI! INI AKU!" pria itu berteriak lebih keras. Kali ini aku menghentikan seranganku dan menatap pria itu. Astaga! Dia orang yang kukenal!
"Ma... Maaf, Wu Xiu..." aku langsung menundukkan kepala dengan malu.
Pria itu, Wu Xiu, mendengus kesal, "Dasar pemimpi! Kau ini sepertinya tidak akan bangun kalau aku tidak membangunkanmu sendiri, ya!"
"Aku sudah bangun tadi!" tukasku tidak terima, "Lagipula, gadis normal mana pun pasti kaget kalau ada seorang pria masuk ke kamarnya!"
"Kalau kamu sudah bangun satu jam lebih awal, aku tidak akan masuk ke kamarmu!" Wu Xiu berseru dengan jengkel, "Kebiasaanmu yang sulit bangun pagi itulah yang membuatku terlihat seperti hidung belang, tahu!"
"Kalian berdua berisik!" suara seorang pria yang lain terdengar. Sesaat kemudian, pria berjubah panjang itu menampakkan wujudnya di pintu kamarku.
"Ah, Qing He..." Wu Xiu melirik pria yang barusan datang itu, "Katakan sesuatu pada beruang kita ini. Kebiasaan hibernasinya sepanjang musim bisa membuatku sulit jodoh. Apa kata orang kalau mereka tahu setiap pagi aku harus masuk ke kamar seorang gadis hanya untuk membangunkannya?"
"Terimalah takdirmu. Gadis ini hanya bangun kalau mendengar suaramu, tahu?" sahut Qing He, "Mungkin saja karena sejak awal dia ditakdirkan berjodoh denganmu."
"Kau bosan hidup ya, Qing He!?" Wu Xiu dan aku berteriak bersamaan, lalu kami berdua terkejut karena reaksi kami sama persis.
"Ah~ Reaksi kalian berdua sudah jadi bukti tak terbantahkan bahwa kata-kataku tadi benar!" Qing He terbahak, "Ya sudah. Lanjutkan urusan kalian berdua. Aku pergi dulu!"
"Aku ikut!" Wu Xiu buru-buru mengikuti Qing He. Sebelum keluar, ia sempat melirikku dan membuang muka. Aku pun balas membuang muka...
..terutama untuk menyembunyikan wajahku yang mulai memerah.
Me wo tojite
Surudoku naru karada de ryouashi de
Kono te ni najimu buki wo atsumeta
I closed my eyes
And with my body and feet, which were getting much more clever
I gathered up the weapons that were familiar to my hands
"Cepat sekali kau sudah siap," ucap Wu Xiu saat melihatku muncul dengan pakaian rapi dan senjata untuk berlatih. Tidak lupa aku menguncir dua rambutku seperti biasa.
"Kau seperti baru mengenalku satu hari saja," sahutku, "Kalau soal berlatih, tidak ada yang lebih semangat daripada aku! Lihat! Matahari bersinar cerah, angin bertiup kencang, dan dedaunan bergoyang lembut! Ini hari yang sempurna untuk latihan!"
"Terserah kaulah," sahut Wu Xiu pendek. Aku bersorak dalam hati. Biasanya kalau tingkahku sudah seperti ini, Wu Xiu pasti langsung malas berkomentar. Ini cara paling bagus untuk membungkamnya.
Yah, rutinitasku memang lain dengan gadis 17 tahun lainnya di bumi Cina ini. Setiap hari kuhabiskan dengan berlatih senjata bersama dengan Wu Xiu, salah satu komandan Pasukan Kerajaan Han, dan Qing He, salah satu ahli strategi Kerajaan Han. Dua pemuda itu bisa dibilang keluargaku sekarang. Dua tahun lalu, mereka menemukanku sebagai satu-satunya korban selamat di sebuah desa yang dihancurkan oleh Kelompok Sorban Kuning. Kurasa aku cuma beruntung karena sebenarnya aku sama sekali bukan penduduk desa itu. Aku hanyalah seorang anak yatim piatu yang dijual sebagai budak di desa itu tepat sebelum Kelompok Sorban Kuning datang. Kekacauan yang disebabkan Kelompok Sorban Kuning justru memberiku kesempatan untuk melarikan diri.
Wu Xiu dan Qing He akhirnya merekrutku sebagai pasukan kerajaan. Karena aku tidak punya tempat tinggal, dengan agak terpaksa mereka mengizinkanku tinggal bersama mereka untuk sementara. Masalahnya, karena Wu Xiu juga bertindak sebagai mentorku dalam berlatih senjata, sepertinya aku akan tinggal bersama mereka dalam waktu lama.
"Ka... Kau berkembang pesat, ya..." hanya dua jam sesudah berlatih, Wu Xiu sudah mulai kewalahan. Aku hanya tersenyum pongah melihatnya.
"Selagi kamu bersenang-senang di istana dengan gadis-gadis cantik, aku berlatih mati-matian, tahu!" seruku sambil menjulurkan lidah.
"Aku ke istana untuk urusan kemiliteran, tahu!" Wu Xiu langsung naik darah mendengar kata-kataku.
"Tidak usah bohong! Kadang-kadang kau juga ikut pesta kerajaan, kan? Aku tahu betul biasanya ada gadis-gadis cantik di sana!" sahutku tak mau kalah.
"Aku memang pernah ikut pesta kerajaan, tapi itu tidak seperti yang kau pikirkan!" suara Wu Xiu semakin meninggi. Lama-lama aku jadi heran, kenapa dia semarah ini, ya?
Meski begitu, bukan aku namanya kalau berhenti menggoda Wu Xiu begitu saja, "Ah, jangan berdalih! Kau sama saja seperti laki-laki kebanyakan, tahu? Kalian cuma tertarik dengan kekuatan, kekuasaan, dan wani--"
BRAKK!!
"Latihan hari ini sampai di sini!!" Wu Xiu meninggalkanku masuk ke rumah setelah membanting tombaknya dengan kasar. Aku hanya bisa tertegun. Tidak kusangka perkataanku begitu melukai Wu Xiu. Biasanya meski candaanku terkadang menyakitkan, reaksi Wu Xiu tidak pernah sampai seperti ini. Wu Xiu yang kukenal adalah pemuda berhati ringan yang terbuka dengan candaan segila apa pun, bukan pemuda bersumbu pendek seperti ini.
Kini aku sendirian, bersama
naginata di tanganku dan tombak Wu Xiu yang tergeletak. Aku mendekati tombak itu dan mengambilnya, namun entah kenapa rasanya seolah aku mengambil pecahan hatiku sendiri...
Shiawase to iu na no pazuru no egara wa
Anata no kata o ushinatte kuzureochita
The design of the puzzle called happiness
Collapsed when I lost your figure"Kalian berdua kenapa?" tanya Qing He kepadaku saat kami berdua makan malam. Baru kali ini Wu Xiu absen dari meja makan. Biasanya kami selalu makan bertiga.
"Wu Xiu aneh hari ini," sahutku tak semangat sambil mengaduk-aduk sup di hadapanku.
Qing He menghela napas, "Kalau tidak aneh, bukan Wu Xiu namanya. Menurutku, justru ini pertama kalinya Wu Xiu bersikap wajar."
Aku berhenti mengaduk-aduk sup, "Apa maksudmu?"
Qing He kemudian menatapku tajam, sementara aku balas mendelik langsung ke mata birunya dengan penuh rasa ingin tahu. Beberapa detik kemudian, Qing He kembali berkonsentrasi dengan supnya, "Lupakan. Kalian berdua sama saja."
"Jangan membuatku penasaran, Qing He!" sergahku jengkel.
"Singkatnya begini. Wu Xiu sekarang sedang
stress, tahu? Seminggu lagi ada penyerbuan ke markas Kelompok Sorban Kuning di kota ini. Penyerbuan ini tak boleh gagal. Wu Xiu benar-benar memikirkan hal itu sampai dia sering naik darah hanya karena soal sepele," jelas Qing He.
Aku mengerjapkan mataku. Jadi itu alasan di balik sikap aneh Wu Xiu? Aku jadi merasa bersalah. Sangat bersalah. Bisa-bisanya aku bercanda seperti itu!
"Qing He, kau tahu Wu Xiu di mana sekarang?" tanyaku.
"Tadi dia di istal. Dia menolak saat kuajak makan bersama," ucap Qing He. Aku pun langsung meninggalkan meja makan dan bergegas ke istal. Di dekat rumah kami memang ada istal untuk menampung Tian Jin[1], kuda hitam kesayangan Wu Xiu.
Beberapa saat kemudian, aku sudah sampai di istal. Benar kata Qing He, di sana ada Tian Jin dan juga Wu Xiu. Pemuda itu sedang mengajak Tian Jin berbicara. Inilah kebiasaan bodoh Wu Xiu kalau dia sedang galau berat. Parahnya lagi, kalau Wu Xiu sudah seperti ini, biasanya dia menolak diganggu. Daripada bertengkar lagi dengan Wu Xiu, lebih baik aku menunggunya selesai mencurahkan isi hatinya pada Tian Jin.
"Tian Jin, maaf aku mengganggumu," kudengar ucapan Wu Xiu sambil mengelus kuda kesayangannya itu. Suara Wu Xiu yang cukup keras menandakan dia tidak sadar aku ada di dekatnya. Ide isengku pun kumat lagi. Mumpung Wu Xiu tidak sadar aku ada di sini, lebih baik aku menguping saja! Siapa tahu hal yang dibicarakan dengan Tian Jin cukup konyol dan aku bisa menertawakannya diam-diam.
"Hari ini aku sedang bermasalah dengannya," Wu Xiu membuka pembicaraan, "Sewaktu kami berdua latihan, tiba-tiba dia menuduhku suka main perempuan. Jelas aku marah padanya."
Ya ampun, Wu Xiu bicara tentang aku? Wah, aku harus tahu apa yang dibicarakannya! Awas saja kalau dia sampai menjelek-jelekkan aku di depan Tian Jin!
Tapi benarkah aku harus tahu? Tiba-tiba aku merasa hal yang akan kudengar selanjutnya bisa membuatku menyesal...
Ah, masa bodoh! Kapan lagi aku bisa tahu apa yang biasa dibicarakan Wu Xiu dengan Tian Jin?
Wu Xiu meneruskan kalimatnya sambil terus mengelus Tian Jin, "Seandainya bukan dia yang menuduhku seperti itu, aku tidak akan ambil pusing..."
Gerakan tangan Wu Xiu berhenti. Pemuda itu menarik napas sebelum melanjutkan, "Masalahnya, hanya dia satu-satunya wanita yang selalu kupikirkan. Hatiku sakit saat aku mendengarnya menuduhku begitu, bahkan dalam candaan sekali pun."
Mulutku menganga saat mendengar kalimat Wu Xiu. Apa katanya barusan!?
Ingin rasanya aku mengorek kupingku dengan
naginataku. Benarkah apa yang baru saja kudengar!? Itu artinya Wu Xiu... denganku...
Tanpa menunggu Wu Xiu selesai berbicara dengan Tian Jin, aku langsung meninggalkan tempat itu. Bukan kata-kata Wu Xiu yang membuatku tidak tahan berada di sana...
...melainkan debar jantungku yang semakin lama semakin tak terkendali, seolah ingin melompat keluar.
Sesudah aku menguping Wu Xiu malam itu, aku langsung masuk ke kamar dan berusaha untuk tidur. Sayangnya usahaku gagal total. Tidak peduli berapa kali aku berusaha memaksa diriku untuk berhenti memikirkan Wu Xiu dan kata-katanya itu, dua hal itu justru semakin jelas dalam kepalaku.
Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.
Ah, bukankah itu cuma kata-kata bodoh Wu Xiu? Pasti dia cuma mengigau, atau saking stress
nya menghadapi penyerbuan Kelompok Sorban Kuning, dia jadi melantur!Akan tetapi, bahkan hatiku pun mengkhianatiku.
Sudah jadi rahasia umum kami bertiga bahwa isi hati Wu Xiu selama ini selalu aman bersama Tian Jin. Seandainya Tian Jin benar-benar bisa mengerti Wu Xiu, bisa dipastikan hanya dia yang paling mengenal Wu Xiu. Begitu matahari terbit, aku menyerah dalam perdebatan dengan hatiku sendiri. Dengan dada yang terpaksa dilapangkan, aku mengakui bahwa seperti halnya Wu Xiu, aku juga terus memikirkannya.
Oh, apa aku masih perlu mengatakan dengan lebih gamblang lagi bahwa aku MEN-CIN-TAI-NYA? Ugh... Bahkan mengakuinya pada diriku sendiri saja aku sudah semalu ini!
Wasurete shimae to
Wasurete shimae to
Ikutsu omoi wo hasetemo
Chiriyuku ryuusei wo tsuranuite negai hatasenu
Umasoko ni shizumu shinju ni narezu ni
Ukiagaru kono omoi wa
Tsumazuku ashimoto wo tadayotte
Kirakira hikaru
Forget about him
Forget about him
No matter how many thoughts like that I have
There’s no end to my wishes when I find a shooting star
Unable to become a pearl at the bottom of the sea
My love rises up
And floats above my stumbling feet
GlitteringPagi itu, untuk pertama kalinya aku bangun tanpa bantuan Wu Xiu, tentu saja karena tidak bisa tidur. Qing He sangat terkejut dengan ini, bahkan berkata bahwa peristiwa ini perlu dicatat dalam sejarah. Sementara itu, Wu Xiu yang seharusnya jadi pihak yang paling diuntungkan dalam kasus ini malah tidak berkomentar sama sekali, seolah tidak ada satu bahasa pun yang pernah masuk ke otaknya. Reaksiku sendiri juga tak jauh beda dengannya. Entah kenapa hatiku belum siap untuk berinteraksi secara normal lagi dengan Wu Xiu.
"Huang Ling, ini fantastis!" Qing He masih tak henti berceloteh tentang Huang-Ling-yang-akhirnya-bisa-bangun-sendiri, "Akhirnya kamu berubah dari beruang kelebihan bius menjadi--"
"Qing He, kau tidak lupa pembicaraan kita kemarin malam, 'kan?" Wu Xiu tiba-tiba memotong ucapan Qing He.
Wajah Qing He -satu-satunya orang yang bisa kulihat secara langsung tanpa sungkan saat ini- langsung berubah serius, "Tentu saja. Memangnya kenapa?"
"Aku akan membahasnya lagi nanti," Wu Xiu beranjak menuju pintu keluar, "Aku akan pergi ke istana."
Hatiku serasa patah saat aku mendengar ucapan Wu Xiu. Berarti hari ini tidak ada latihan bersamanya?
Seolah menyadari isi hatiku, Qing He bertanya, "Kalau begitu, apa aku saja yang melatih Huang Ling hari ini?"
"Terserah," jawab Wu Xiu pendek tanpa menoleh, lalu pergi begitu saja.
Bukan cuma hari ini Wu Xiu pergi tanpa kami, tapi baru kali ini hatiku terasa teiris-iris saat melihat punggungnya menjauh, apalagi dengan reaksi dinginnya barusan.
"Huang Ling, kau sudah menyadarinya?" Qing He tiba-tiba bertanya.
Aku menoleh, gelagapan, "Ma-Maksudmu?"
"Kau mencintainya, 'kan?" tanpa ba-bi-bu, Qing He melontarkan pertanyaan retorik yang sontak memerahkan wajahku, "Kalian berdua payah, deh...Gelagat kalian berdua sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan perasaan kalian, tahu? Seandainya ada yang tidak tahu kalian saling mencintai, itu adalah kalian sendiri."
Aku melotot, "Jadi Wu Xiu benar-benar--"
"--mencintaimu. Setengah mampus. Sama sepertimu, dia mati-matian menyangkal perasaanya dan sama sekali tidak sadar kamu mencintainya balik," sahut Qing He sambil melipat tangan, "Sebelum terlambat, katakanlah padanya."
"Terlambat?" firasatku langsung tidak enak saat Qing He mengatakan itu, "Apa maksudmu?"
Qing He melirikku dengan mata birunya, "Mau tahu apa yang kubicarakan dengan Wu Xiu kemarin malam?"
Aku mengangguk, tanpa sedikit pun menyangka apa yang akan Qing He katakan.
"Kami berbicara tentang rencana untuk menghancurkan Kelompok Sorban Kuning dan Kerajaan Han sekaligus."
Hi wa noboru
Ikusen no namida wo itami wo shirazu ni
Watashi wa hai no umi wo oyoida
Shukumei wa shizuka ni fuwari to chikadzuki
Anata wa hitori moetsukite sora ni kieta
The sun will rise
Unaware of the thousands of tears and the pain
I swam in a sea of ashes
Fate quietly drifted closer
And you burned out alone and disappeared into the sky"Selama masih ada pemerintahan, kekacauan dan perang akan terus terjadi. Mengembalikan pemerintahan kepada rakyat adalah jalan yang paling tepat. Di dunia ini tidak ada satu pun pemerintahan yang bersedia melakukan itu secara sukarela..."Yang benar saja!
"...kecuali jika kita sebagai rakyat menghancurkannya lebih dulu."YANG BENAR SAJA!!
Kata-kata Qing He terus terngiang di telingaku. Sekarang kakiku tengah membawaku sekuat tenaga ke istana Kerajaan Han. Sepertinya kecepatan lariku sudah melebihi Tian Jin. Masa bodoh. Yang penting, si gila Wu Xiu itu harus kuseret pulang dan kuluruskan otaknya!
Gerbang istana Kerajaan Han akhirnya terlihat di depan mataku. Dua prajurit penjaga istana sudah mendelik ke arahku saat aku dengan lantang berseru di depan muka mereka, "IZINKAN AKU BERTEMU DENGAN WU XIU, SEKARANG!"
Wu Xiu sudah termasuk golongan prajurit berpangkat di angkatan bersenjata Kerajaan Han sehingga kedua prajurit itu dengan berat hati mengizinkanku masuk. Belum jauh kakiku melangkah ke dalam istana Kerajaan Han, kulihat Wu Xiu lari tergopoh-gopoh menuju ke pintu gerbang. Sungguh, ini di luar perkiraanku dan perkiraannya.
"Hu-Huang Ling, ngapain kamu di sini!?" Wu Xiu terlihat
shock bukan buatan.
"Untuk menyeretmu pulang, bodoh!" sergahku sambil menarik tangan Wu Xiu.
"Kelamaan! Begini saja!" Wu Xiu mengangkatku di pundaknya dan lari sekencang-kencangnya. Jelas aku kaget, malu, dan juga senang. Tapi kenapa Wu Xiu juga sepanik ini? Apa yang terjadi?
Pertanyaanku langsung terjawab saat kami sampai di rumah. Rumah kami sudah hancur tak berbentuk, begitu pula dengan istal. Aku menjerit saat melihat Tian Jin tergeletak tak bernyawa di tengah sisa-sisa istal. Pada saat yang sama, aku mulai mengkhawatirkan Qing He.
"Qing He akan baik-baik saja," ucap Wu Xiu dengan suara bergetar, "Ambil senjatamu, Huang Ling. Qing He pasti sudah meletakkannya di sekitar sini. Ada sesuatu yang harus kuambil."
Meski bingung, aku menuruti perintah Wu Xiu. Benar katanya, senjataku disembunyikan di balik lemari yang sudah jadi puing-puing. Aku menghampiri Wu Xiu yang kini membawa sebuah gulungan besar.
"Waktu kita tidak banyak," Wu Xiu meraih tanganku, "Ayo cepat!"
Kami berdua meninggalkan rumah dan beranjak ke tempat yang hanya diketahui Wu Xiu dan Qing He. Tanpa bisa menahan keingintahuanku, akhirnya aku bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi di sini!?"
"Kelompok Sorban Kuning mengetahui rencana rahasiaku. Mereka tadi mengirim surat ancaman ke istana. Siapa sangka mereka sudah bergerak sejauh sini," jelas Wu Xiu sambil menghela napas.
"Rencanamu untuk menghancurkan Kelompok Sorban Kuning dan Kerajaan Han?" aku langsung menebak rencana itu tanpa pikir panjang. Lagi-lagi Wu Xiu menghela napas. Sempat kudengar ia bergumam, "Qing He sialan."
Kami berdua akhirnya sampai di sebuah gubuk kecil yang terletak cukup tersembunyi di tepi perkebunan dekat rumah. Qing He sudah menunggu kami.
"Akhirnya kalian datang..." ucap Qing He dengan wajah lega, "Begitu Huang Ling pergi, aku langsung bersiap di sini. Maaf, aku tidak sempat membawa Tian Jin--"
"Qing He, kita harus melakukannya sekarang!" lagi-lagi Wu Xiu memotong ucapan Qing He. Akan tetapi, kali ini reaksi Qing He jauh dari perkiraanku.
"Kamu gila, Wu Xiu!" seru Qing He berapi-api, "Kita tidak mungkin bisa melakukannya tanpa persiapan memadai seperti saat ini! Pasti gagal!"
"Hanya ini pertaruhan kita sekarang!" tanpa mempedulikan Qing He, Wu Xiu mulai membuka gulungan besar yang tadi dibawanya. Gulungan itu berisi tulisan-tulisan aneh yang rumit. Kulihat Wu Xiu menggigit jarinya hingga berdarah, lalu menuliskan sesuatu pada gulungan itu.
"Huang Ling, berjagalah di luar," ucap Qing He, "Bukan tidak mungkin Kelompok Sorban Kuning menemukan tempat ini."
"Aku siap!" seruku antusias. Selama ini aku hanya berperan sedikit setiap kali bergerak bersama Wu Xiu dan Qing He dalam meredam pemberontakan Kelompok Sorban Kuning. Kurasa ini kesempatan untuk membuktikan kemampuanku. Meski begitu, firasatku buruk soal gulungan yang dibawa Wu Xiu itu. Sudah jelas mereka tidak merencanakan sesuatu yang baik. Hanya saja, kami semua dalam bahaya. Sepertinya cuma itu yang bisa kami andalkan sekarang.
Beberapa menit berlalu. Wu Xiu sudah selesai menulisi gulungan itu. Kini tulisan-tulisan dalam gulungan itu mulai bercahaya, begitu pula dengan tubuh Wu Xiu. Qing He tampak sedang membacakan mantera yang tidak kumengerti. Ajaib, tulisan-tulisan dalam gulungan tiba-tiba melayang dan masuk satu per satu ke dalam tubuh Wu Xiu. Selagi aku mengagumi pemandangan yang tak masuk akal di hadapanku, aku merasakan adanya hawa membunuh yang sangat pekat di depanku, yang sayangnya sudah terlalu lambat kusadari...
Segalanya terjadi begitu cepat.
Aku terjatuh, dengan rasa sakit yang sangat di tubuhku. Qing He dan Wu Xiu meneriakkan namaku dengan histeris.
Dengan sisa-sisa kesadaranku, aku melihat prajurit Sorban Kuning yang bertubuh transparan tengah menggengam pedang berlumuran darah. Ah, tubuhku baru saja ditebas dengan itu...
Qing He dengan murka langsung membunuh prajurit Sorban Kuning itu dengan sihirnya. Aku lupa dia punya ilmu sihir... Prajurit-prajurit Sorban Kuning yang lain terus berdatangan. Wu Xiu nyaris ikut memerangi prajurit-prajurit itu seandainya aku tidak menggenggam tangannya.
"Jangan... pergi..." napasku mulai berat. Air mata mulai menggenangi pelupuk mataku. Sejak kemarin, baru kali ini aku bisa menatap mata Wu Xiu secara langsung. Kristal cair kini juga menggantung di matanya. Sebelum aku menyadarinya, Wu Xiu sudah merengkuhku. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang mulai tak beraturan, juga isakannya.
"Huang Ling, jangan sekarang..." dia berbisik tepat di telingaku dengan suara serak bercampur isak tangis, "Kumohon..."
Aku semakin mengantuk. Napasku juga semakin berat. Dengan sisa-sisa kekuatanku, aku menggenggam tangan Wu Xiu sekuat mungkin, "Aku... mencin--"
Tiba-tiba semuanya gelap.
Kamikudakinasai
Nomikominasai to
Nando kuchi wo fusaidemo
Kuchibiru yaketadarete toorazu modoshitsudzuketa
Ikazuchi wo otoshi
amagumo wo saite
Anata no moto e hakonde
Tsumazuku genjitsu wo samayotte agaiteta
Make it clear
Swallow it
No matter how many times I covered my mouth to stop myself saying it
The words smouldered behind my lips, unable to get out as I pushed them back
I threw down thunder and ripped through the clouds
And flew to you
Stumbling and struggling as I wandered through reality
Secepat itu pula segalanya menjadi terang.
Kepalaku pusing. Seluruh badanku kesemutan. Aku bingung. Bukannya aku sudah mati?
"Huang Ling..."
Aku terkejut saat mendengar suara Wu Xiu. Suaranya terdengar sangat lemah. Pemuda itu masih memelukku dan tangannya masih kugenggam, tapi kondisinya sudah jauh berbeda.
Dia sekarat.
"Wu Xiu! Apa yang terjadi denganmu!?" jeritku. Dengan tubuhku yang sekarang terasa sehat, aku memeriksa tubuh Wu Xiu dan menemukan luka-luka parah di sekujur tubuhnya.
"Bukan apa-apa..." suara Wu Xiu terdengar makin lemah. Tak terasa air mataku kembali mengalir. Kenapa sekarang situasinya jadi begini? Aku baru sadar betapa menyiksanya melihat orang yang kusayangi di ambang kematian. Inikah yang dirasakan Wu Xiu tadi?
"Aku akan menolongmu!" seruku sambil berusaha memapah Wu Xiu, "Mana Qing He?"
Saat itulah aku melihat sosok seorang pria dengan jubah panjang tergeletak berlumuran darah tak bergerak di dekat kami. Tangisku meledak saat aku menyadari sosok itu adalah Qing He.
"Jangan... pergi..." kata-kataku tadi dijiplak oleh Wu Xiu. Air mataku makin deras mengalir.
"Wu Xiu, kenapa semua jadi begini?" aku memeluk Wu Xiu erat. Aku bisa merasakan detak jantungnya -yang tadi tak beraturan- sekarang semakin melemah bak api lilin yang perlahan ditiup angin.
"Kamu akan tahu... nanti..." suara Wu Xiu semakin tak terdengar sementara aku memeluknya makin erat, "Hiduplah..."
Sesudah itu, satu-satunya suara yang tersisa di ruangan itu hanyalah tangisanku.
Ryuu yo maimodori daichi e izanai
Hibiwareta watashi wo moto ni modose
Ryuu yo inishie no izumi e izanai
Kareta watashi no mabuta wo modoshite
Come back, dragon, tempt him back to earth
And bring him back to the cracked ground where I stand
Dragon, tempt him back to the old spring
And bring back my dry eyelids
Entah berapa lama kulalui bersama Wu Xiu dan Qing He yang sudah tak lagi bernyawa sampai kudengar derap kaki sejumlah besar manusia mendekati gubuk ini. Tanpa menoleh, aku tahu mereka adalah prajurit Sorban Kuning lainnya.
"Hei, masih ada seorang gadis di sini!" kudengar suara seorang dari mereka, "Bereskan dia!"
Aku membaringkan tubuh Wu Xiu di lantai, lalu kuraih
naginataku yang tergeletak. Beberapa prajurit Sorban Kuning mendekatiku dengan tatapan haus darah.
Aku sudah tidak peduli lagi.
Aku tidak lagi merasakan apa pun, kecuali kekosongan.
Aku mendongakkan kepalaku dan merasakan air mata berbau amis mengaliri wajahku. Air mata darah.
Kesadaranku kembali memudar. Kegilaan dan nafsu membunuh mulai mengaliri otakku. Hanya satu kata yang terngiang di telingaku sebelum aku kehilangan kesadaran lagi.
"Hiduplah..."Ryuu yo maimodori daichi e izanai
Hibiwareta watashi wo moto ni modose
Ryuu yo inishie no izumi e izanai
Kareta watashi no mabuta wo modoshite
Come back, dragon, tempt him back to earth
And bring him back to the cracked ground where I stand
Dragon, tempt him back to the old spring
And bring back my dry eyelids
Begitulah segalanya bermula dan berakhir. Begitu aku sadar sesudah itu, semua prajurit Sorban Kuning yang menyerangku sudah meregang nyawa. Luka-luka di tubuh mereka bukan luka akibat senjata tajam, melainkan luka cakaran hewan buas. Melihat seluruh tubuhku yang basah oleh merah darah, sudah jelas aku pelakunya, meski aku tidak ingat bagaimana aku melakukannya. Yang pasti, sebelum kesadaranku benar-benar kembali, aku merasakan kehadiran seorang wanita yang memasangkan penutup mata bersegel padaku.
Sudah tujuh tahun berlalu sejak peristiwa itu. Sudah tujuh tahun pula aku hidup dalam kekosongan, dengan dosa-dosa tak termaafkan dan seekor makhluk terkutuk dalam jiwaku. Aku mengganti namaku, dari Ling yang berarti "lembut" menjadi Ling yang berarti "nol", sebagai tanda bahwa hidupku sekarang tidak lebih dari kekosongan. Sekarang aku sudah tak lagi tertarik pada apa yang sesungguhnya terjadi padaku hari itu. Aku jelas-jelas sudah mati, tetapi mendadak hidup kembali sambil mencabut nyawa orang-orang yang tak bersalah. Seiring dengan perjalanan hidupku sesudahnya, daftar nyawa yang jatuh di tanganku semakin panjang. Makhluk dalam tubuhku selalu lepas kendali setiap tiga bulan sekali, lalu membunuh semua orang di sekelilingku dan menghilang jika sudah mendapat cukup darah untuk memuaskannya.
Satu-satunya caraku untuk bertahan hidup adalah mengasingkan diri. Cara ini cukup efektif pada awalnya, tapi aku mulai lelah. Tetap saja aku berbahaya jika terus hidup. Meski begitu, aku terus menolak untuk bunuh diri. Sekarang aku tahu apa alasannya. Itu semua karena Wu Xiu memintaku untuk terus hidup. Ternyata memang bukan hanya kematian yang kupercayai. Sampai ada seseorang yang bermurah hati untuk membunuhku, aku akan terus hidup...
...dalam siklus kematian tanpa akhir, berendam darah orang-orang di sekelilingku.
Me o samase
Watashi no kemono
Open your eyes
My beast
[1]Tian Jin: Chinese name dari Celestial Ford, sebuah konstelasi bintang di utara. Di konstelasi ini, Deneb adalah bintang yang paling terang. Chinese name Deneb sendiri adalah "Tian Jin Si" yang berarti "Bintang keempat di Celestial Ford". Yeah, saya terinspirasi menamai kudanya Wu Xiu dengan nama ini gara-gara nonton Kamen Rider Den-O.

Saya muncul lagi dengan model cerita favorit saya: SongFic!
Setelah menyelesaikan cerita ini dan membacanya ulang, saya merasa, "My God, what have I done?"

Ini tragedy fic tertragis yang pernah saya bikin! Huaaaaa!!! Ya ampun, ini angsty banget. Asli. Tapi romancenya geje ya? Ugh...
But still, ini gebrakan besar bagi seorang Mocca-Marocchi.

Special thanks buat Tante Amano Tsukiko, yang selalu punya daya untuk membuat saya galau dengan lagu-lagunya. Lagu "Ryuu" benar-benar memberi saya inspirasi dalam mengembangkan Huang Ling. Kadang saya berpikir ceritanya bakal lebih bagus kalau nggak ada lirik-lirik lagunya, tapi tetep aja saya merasa harus menulisnya.
Memang masih banyak hal yang tidak dijelaskan dalam fic ini karena pada dasarnya Huang Ling nggak tau dan nggak mau tau apa pun tentang itu. Buat yang penasaran, terus stay tuned sama RP DW KLI, yaa~ Pelan-pelan pasti akan saya jelaskan semuanya, kok!
Thanks for reading~ Secuil review, please?