Welcome Guest [Log In] [Register]
ANNOUNCEMENT BOX

GUIDE


Welcome to KOEIndo!

Di sini kita bisa mengobrol soal Games nya Koei sepuasnya, dari Dynasty Warrior, Samurai Warrior dan lain-lain. Selain ngobrol kalian juga bisa berole-play, memainkan games, bikin topik seru, curhat dll, dst, ect.

Dan sekarang, bagi para member anda bisa mendownload beberapa konten mengenai Koei yang sudah kami sediakan ^^

Silahkan Join our community! ^^

Bagi kalian yang sudah bergabung. Ayo Log in dan ramaikan Forum ini ^^

----------------------------------

Follow update dari game-game terbaru koei:

Dynasty Warrior 9
Samurai Warriors: Sanada Maru
Warrior All Stars

ROLEPLAY


Welcome to KOEIndo. We hope you enjoy your visit.


You're currently viewing our forum as a guest. This means you are limited to certain areas of the board and there are some features you can't use. If you join our community, you'll be able to access member-only sections, and use many member-only features such as customizing your profile, sending personal messages, and voting in polls. Registration is simple, fast, and completely free.


Join our community!


If you're already a member please log in to your account to access all of our features:

Username:   Password:
Add Reply
Cry for Help; All I need is a cry for help...
Topic Started: Dec 17 2012, 01:37 AM (306 Views)
Mocca-Marocchi
Member Avatar
Art by @moa810 on twitter
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Story Type: Original SongFiction (lagi dan lagi)
Language: Indonesia
Rating: T
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Characters: Yang Yuan Yu & Yang Jing Ai
Summary: Tommy Vercetti's request. "Kenapa dia harus menanggung segalanya sendirian?"
DISCLAIMER: The characters are all mine. The song "Cry for Help" is sung by Rick Astley so it's not mine.

The music video of the attached song:





Siang itu, istriku Yang Jing Ai duduk sendirian di meja makan. Seperti biasa dia tampak cantik dengan rambut coklat tembaganya yang disanggul tinggi. Sayangnya wajah istriku tampak muram. Sebelum aku sempat mendekatinya, anak-anak kami, Fei Ling dan Rui Huo, mendekatinya terlebih dulu.

Niang[1] kenapa? Kok wajahnya sedih begitu?” tanya Fei Ling polos. Sepasang bola mata coklat tua gadis delapan tahun itu memancarkan kekhawatiran yang bukan buatan.

Niang sakit, ya?” tanya Rui Huo, adik Fei Ling yang masih lima tahun, dengan tak kalah khawatirnya.

"Niang tidak apa-apa. Tadi die[2] bilang tidak ada latihan bela diri hari ini. Kalian bermainlah di luar sepuasnya," ucap Jing Ai sambil tersenyum. Tentu saja baik kata-kata istriku maupun senyum manisnya saat itu cuma kebohongan. Tanpa berprasangka sedikit pun, anak-anak kami bersorak gembira, memeluk Jing Ai sambil berterima kasih, lalu keluar rumah dengan antusias.

Kembali Jing Ai sendirian di meja makan, sibuk dengan dunianya sendiri. Istriku memang punya semesta pribadi dalam benaknya yang dibagikannya hanya denganku. Kali ini dia berusaha untuk menyembunyikan dunianya dari semua orang, namun aku sudah terlanjur mengenalnya terlalu jauh sehingga tidak sulit untuk menerka apa yang sebenarnya terjadi.

Aku mendekati istriku dan langsung bertanya tanpa basa-basi, "Ada yang baru saja meninggal, bukan?"

Jing Ai tidak bergeming; reaksi yang biasa ditunjukkannya jika tebakanku benar. Aku duduk di kursi yang berhadapan dengannya, menatap lurus mata Jing Ai yang tengah menghindari tatapanku.

"Qing He dan kawan-kawannya, ya..." kulihat raut wajah Jing Ai sedikit berubah saat aku menyebut nama itu, "Sungguh disayangkan. Tak kusangka mereka benar-benar berbuat sejauh itu sampai kehilangan nyawanya."

"Kau tidak kenal Qing He," istriku akhirnya angkat bicara dengan nada datar, "Meski tangan dan kakinya dipotong, ia akan tetap melakukan apa yang ia inginkan."

"Lantas untuk apa kau berusaha mencegah Qing He melakukan itu minggu lalu?" tanyaku pada Jing Ai. Masih teringat di benakku perdebatan sengit antara Jing Ai dan Qing He, adik sepupunya, tentang rencana Qing He untuk menggunakan kekuatan Hundun, monster perwujudan kekacauan. Dengan kekuatan Hundun, Qing He ingin menghancurkan Kerajaan Han sekaligus Kelompok Sorban Kuning agar kedamaian tercipta bagi rakyat.

Jing Ai memejamkan mata, "Waktu itu aku berharap Qing He akan mendengarkanku meski hanya sedikit. Dalam sejarah, sudah ada beberapa orang yang mencoba meminjam kekuatan Hundun dan mereka semua selalu berakhir tragis."

Aku menghela napas. Sesungguhnya aku sudah menyangka hal ini akan terjadi. Begitu Qing He mengatakan keinginannya untuk menggunakan kekuatan Hundun, ia sudah memilih untuk mati. Zaman kami hidup ini memang amatlah kacau. Perang dan pertumpahan darah terus terjadi. Tidak heran semakin lama semakin sedikit orang yang bisa berpikir waras.

"Kau tidak perlu memikirkan itu lagi. Itu sudah bukan masalah besar. Aku sudah mengurus semuanya dan kita bisa menghadiri pemakamannya besok," ucap Jing Ai lagi sambil beranjak meninggalkan kursinya. Aku ikut berdiri dan mendekati Jing Ai, "Kenapa kau selalu menanggung semuanya sendirian? Aku selalu siap membantumu kalau kau perlu!"

Jing Ai menatapku dan tersenyum, "Tidak apa-apa, Yuan Yu. Kau punya pekerjaan penting untuk melindungi keutuhan kerajaan kita. Aku tidak bisa merepotkanmu dengan masalah ini."

"Masalahmu adalah masalahku juga! Aku tidak pernah merasa direpotkan dengan itu!" tukasku dengan nada meninggi. Jing Ai menggeleng, "Tidak, Yuan Yu. Semuanya sudah selesai. Sungguh. Aku tidak apa-apa. Tidak usah dipikirkan."

Kali ini aku terdiam. Kata-kata Jing Ai barusan jelas bukan untuk menenangkanku, melainkan untuk menegaskan supaya aku tidak ikut campur dalam masalah ini. Jing Ai kemudian meninggalkanku sendirian. Aku terus menatap punggungnya yang menjauh. Kurasa hati kami juga mulai berjarak.

She's taken my time
Convince me she's fine
But when she leaves I'm not so sure
It's always the same


Meskipun begitu, aku tidak bisa menyalahkan Jing Ai. Di samping bekerja sebagai pemilik perusahaan ekspedisi, aku juga bekerja sebagai mata-mata Kerajaan Han. Koneksiku dengan pelanggan dari seantero Cina membuatku selalu mendapatkan informasi-informasi yang penting untuk menjaga keutuhan kerajaan ini. Pekerjaanku yang penting itu membuat Jing Ai selalu berusaha mendukungku dengan segala cara, termasuk dengan tidak merepotkanku dengan masalah-masalah pribadinya sehingga ia cenderung untuk memendam masalahnya sendiri, seperti yang terjadi saat ini. Sudah berulang kali kukatakan pada Jing Ai bahwa aku akan selalu ada untuknya dan dia tidak perlu menanggung semuanya sendiri, namun dia memilih untuk tidak membagi masalahnya.

Aku tidak bisa memaksa Jing Ai untuk menerima bantuanku, namun harus kuakui bahwa aku benci melihat Jing Ai selalu melakukan itu. Terkadang aku menyalahkan diriku sendiri dan pekerjaanku. Seandainya aku tidak menjadi mata-mata Han, Jing Ai tidak akan seperti ini. Istriku itu memang wanita yang kuat, tapi manusia sekuat apa pun pasti memiliki batas.

Baru kali ini aku merasa diriku telah membebani Jing Ai sejauh itu. Perasaan bersalah sekaligus tidak berdaya kini bergejolak di dadaku. Kenapa aku tidak bisa berbuat apa pun untuk meringankan bebannya? Kenapa dia tidak pernah berkata bahwa ia membutuhkan bantuanku meski hanya sedikit?

She's playing her game
And when she goes I feel to blame
Why won't she say she needs me?
I know she's not as strong as she seems


Tak lama setelah itu, aku mendapat kabar bahwa di hutan kecil dekat istana Han telah ditemukan sejumlah besar mayat Kelompok Sorban Kuning dengan luka seperti diserang binatang buas. Selain itu, kediaman Qing He yang tidak jauh dari hutan kecil itu dirusak. Seekor kuda juga ditemukan mati di rumah itu. Tanpa memberi tahu Jing Ai, aku bergegas menuju ke hutan kecil itu.

Sesampainya di sana, aku melihat lokasi itu sedang diselidiki oleh pasukan kerajaan. Darah masih berceceran di sana. Pohon-pohon hancur dengan tidak wajar, seolah dikoyak-koyak oleh sesuatu. Sebuah bangunan seperti rumah kecil juga tampak hancur tak berbentuk. Menurut keterangan seorang anggota pasukan kerajaan yang memeriksa lokasi itu, ada saksi mata yang melihat seekor naga mengamuk dan membunuh Kelompok Sorban Kuning itu. Saat saksi mata itu berniat mencari pertolongan untuk menghentikan naga itu, makhluk itu tiba-tiba menghilang.

Informasi lain bahwa naga itu menghilang setelah seorang wanita berambut coklat tembaga tersanggul muncul di lokasi itu. Wanita itu sekarang menghilang entah ke mana. Tidak perlu waktu lama bagiku untuk menebak bahwa wanita itu pastilah Jing Ai. Rupanya inilah sebabnya dia mengetahui kematian Qing He. Jing Ai juga sudah menyegel Hundun dan menangani mayat Qing He beserta kawan-kawannya sendirian. Aku tidak bisa membayangkan betapa beratnya hal itu dilakukan olehnya seorang diri.

Aku pun bergegas pulang, hanya untuk menemukan Jing Ai sudah menantiku di depan pintu dengan ekspresi yang sulit ditebak. Aku menghela napas dan masuk ke rumah, berusaha untuk mengabaikan keberadaan istriku.

“Seharusnya kau sudah tahu bahwa kau tidak perlu ikut campur, bukan?” tanya Jing Ai dingin tepat setelah aku melewatinya.

Aku berhenti melangkah dan menjawabnya dengan tak kalah dingin, “Kasus ini berkaitan dengan Kerajaan Han. Aku jelas berhak untuk ikut campur. Bisakah kau berhenti menganggapku pengganggu?”

Jing Ai tampak marah saat ia mendengar perkataanku, “Aku tidak pernah menganggapmu begitu! Kau sudah salah sangka padaku!”

“Lantas apa?” suaraku mulai bergetar saat aku berkata, “Kau jelas-jelas melarangku ikut campur, bukan? Itu berarti kau merasa aku hanya pengganggu! Kau tidak membutuhkanku untuk menyelesaikan masalah ini!“

Jing Ai sudah bersiap untuk membuka mulut, namun kata-katanya tidak pernah keluar. Sebagai gantinya, ia hanya menatapku penuh amarah dan meninggalkanku masuk ke rumah.

Why don't I see her cry for help?
Why don't I feel her cry for help?
Why don't I hear her cry for help?


Aku berbalik meninggalkan rumahku. Sepertinya tidak ada gunanya aku berada di rumah sekarang. Suasana di antara kami berdua benar-benar buruk. Kami butuh waktu untuk menenangkan diri.

Aku memutuskan untuk berjalan-jalan di kota. Saat ini langit kelabu menggantung di atas kepalaku. Udara di sekitarku terasa lembap dan berat. Jalanan yang biasanya ramai kini sepi. Sepertinya sebentar lagi akan hujan, namun aku tidak peduli. Pikiranku tidak pernah lepas dari Jing Ai, wanita yang sudah membagi jiwanya denganku selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Terkadang memang kami bertengkar, namun belum pernah pertengkaran kami menjadi separah ini.

Jing Ai yang sekarang nyaris tidak seperti Jing Ai yang kukenal. Biasanya dia selalu tampak kuat, anggun, tidak bisa hancur, sekaligus patuh, penuh kasih sayang, dan selalu mau membagi dunianya denganku. Kali ini dia berbeda. Tembok yang dibangun di sekitar hatinya begitu kokoh. Dia bahkan menutup dirinya dariku. Hal ini jelas tidak bisa kuterima, meskipun ia bersikeras bahwa ia tidak mengizinkanku ikut campur agar tidak merepotkanku.

Sebenarnya apa yang salah dengan kami berdua? Bukankah seharusnya hati kami sudah tak berjarak sehingga kami bisa selalu merasa dekat dengan satu sama lain meski sedang berjauhan? Bukankah seharusnya kami sudah sangat mengerti satu sama lain tanpa bicara sepatah kata pun?

Saat itulah hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, bagai panah-panah cair yang menghujamku dari langit,
menikam hati dan pikiranku.

Saat itu pula tiba-tiba aku tersadar akan kesalahan bodohku.

Seandainya bisa, aku ingin menangisi kesalahanku itu, namun tidak ada setetes pun air mata yang keluar. Biarlah hujan yang menggantikan air mata membasahi wajahku.

I wandered around
The streets of this town
Trying to find sense of it all
The rain on my face
It covers the trace
Of all the tears I'd had to waste


Segera aku kembali ke rumah secepat kakiku bisa membawaku. Rumahku sedang sepi, sepertinya Jing Ai dan anak-anakku sedang beristirahat di kamar masing-masing. Kulangkahkan kakiku ke kamar kami. Kamar itu sedang tertutup rapat, bagai tembok batu kokoh yang melingkupi hati istriku. Akan tetapi, itu sudah tidak mampu lagi menyurutkan tekadku.

Aku membuka pintu kamar, menemukan Jing Ai sudah berdiri di samping jendela sambil menatapku. Sudah kuduga, dia sudah tahu aku akan datang. Aku menutup pintu kamar, lalu mendekati Jing Ai.

“Jing Ai…” aku balas menatapnya, “Kita… Harus bicara…”

“Aku tahu,” Jing Ai membalas dengan suara datar. Kali ini aku sudah bisa mengira reaksinya pasti akan seperti ini.

Aku menghela napas, “Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sungguh-sungguh ingin membantumu, bukannya mengganggumu.”

“Hanya itu?” tanya Jing Ai.

Aku tersenyum, “Aku yakin kau pasti mengira aku akan menjawab ‘iya’.”

Ekspresi wajah Jing Ai berubah, seperti riak air yang tiba-tiba muncul dari permukaan danau yang tenang. Inilah yang kutunggu, retakan kecil dari tembok batu itu…

Aku juga yakin Jing Ai pasti tidak menyangka bahwa sesudah itu aku memeluknya erat. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku memeluknya seperti ini. Satu kehidupan yang lalu, mungkin?

Why must we hide emotions?
Why must we never break down and cry?


“Maaf…” gumamku lirih tanpa melepaskan pelukanku, “Seharusnya aku menghancurkan tembok itu lebih awal…”

“A… Ada apa ini, Yuan Yu?” kudengar suara Jing Ai bergetar, “Ini… Seperti bukan kau saja…”

Aku melepaskan pelukanku dan menatap Jing Ai dalam-dalam, “Aku juga merasakan itu darimu. Kau yang menutup dirimu kepadaku itu seperti bukan kau…” aku menghela napas sebelum melanjutkan, “ …hingga aku menyadari bahwa sesungguhnya akulah yang sudah menutup diriku lebih dulu kepadamu dan kepada anak-anak kita.”

Sebagai mata-mata Kerajaan Han, penting bagiku untuk tidak memperlihatkan terlalu banyak perasaan. Terlalu banyak rahasia yang kujaga sehingga aku tidak bebas membuka diriku. Baru kusadari bahwa belakangan ini aku semakin sibuk dengan kedua pekerjaanku dan menutup diriku dari Jing Ai hingga ia menganggapku aku sebagai orang lain yang tidak seharusnya direpotkan, bukan suami yang bisa diajak berbagi. Percuma saja aku memaksa Jing Ai untuk membagi masalahnya denganku jika aku sendiri tidak bisa membagi masalahku dengannya.

Kulihat sepasang bola mata Jing Ai berkaca-kaca, “Aku… Aku tidak pernah bermaksud untuk menganggapmu pengganggu… Hanya saja, akhir-akhir ini kau semakin sibuk. Aku sangat ingin menolongmu, tapi kamu tampak tidak ingin diganggu. Akhirnya aku merasa sebaiknya aku menyelesaikan hal ini sendirian. Aku hanya tidak ingin membebanimu.”

“Kau tahu, aku benci melihatmu terus membebani dirimu sendiri,” aku menyentuh pipi Jing Ai perlahan. “Tolong aku, Jing Ai. Tolong jangan membebani dirimu sendiri. Aku tersiksa melihatmu menanggung segalanya sendirian.”

“Begitu juga denganku!” tangisan Jing Ai akhirnya pecah, “Aku selalu siap untuk membantumu, bahkan dengan menanggung semuanya sendirian!”

All that I need is to cry for help
Somebody please hear me cry for help
All I can do is cry for help


Aku tersenyum lemah sambil menghapus air mata Jing Ai, “Seharusnya kita lebih terbuka pada satu sama lain soal ini.”

Aku terlalu sombong, menganggap aku sudah mengerti Jing Ai dan begitu pula sebaliknya hingga kami tidak perlu bicara terlalu banyak dengan satu sama lain. Tanpa kusadari, itu justru membuat kami berjarak. Kenyataannya, tidak ada manusia yang benar-benar bisa saling mengerti satu sama lain tanpa saling bicara.

Jing Ai menghapus sisa-sisa air matanya, lalu tersenyum, “Baiklah. Aku akan selalu siap membantumu dan selalu siap untuk minta pertolonganmu jika perlu.”

“Itu baru istriku!” seruku sambil memeluk istriku sekali lagi.

No need to feel ashamed
Release the pain
Cry for help
Cry for help is all I need
All I need is a cry for help
Cry for help is all I need
All I need is a cry for help





Glosarium
[1] Niang : ibu
[2] Die: ayah

Nikooo (atau Tommyyy), saya sudah menyelesaikan requestmu! Akhirnyaaaa!!

Saya juga mohon maaf kalau ceritanya malah jadi begini. Kesannya kok memanfaatkan request orang untuk kepentingan pribadi, yaa… x____x Saya ini tipe author yang hanya bisa membuat cerita dengan karakter yang sudah saya kenal baik. Maaf kalau ceritanya nggak sesuai keinginan…

Maaf juga bahwa ternyata saya cuma bisa bikin “Cry for Help”. Skill saya belum cukup untuk membuat cerita dengan “Never Gonna Give You Up”. Hiks….

Yah, bisa dibilang ini adalah sisi lain dari “Dragon”. Wanita yang menyegel Hundun pada Huang Ling di akhir cerita “Dragon” itu memang Jing Ai. Setting cerita “Cry for Help” adalah tujuh tahun sebelum RP dimulai sehingga Fei Ling dan Rui Huo di sini masih kecil banget. Begitulah~ Kalau memang masih ada yang belum jelas, itu karena memang baru akan dijelaskan di RP…

Itu aja deh. Thanks for reading yaaa~ Review, plis? Sebutir aja juga oke, kok…
Edited by Mocca-Marocchi, Dec 17 2012, 01:48 AM.
Posted Image
Thanks to S.M.A for the signature!
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
tungpangtungjes
Member Avatar
yawda senyumin yes kk
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Finally. Saya bisa membaca orific ala Mocca-senpai lagi! :fly:
woi fanfic lo aja belum selesai udah ngacir duluan /dhuar

Jing Ai, kalau gak salah dimensyen di fanfic Phoenix Form-nya Pyro-senpai kan? Saya gak nyangka ternyata dialah yang menyegel Hundun ke tubuh Huang Ling OnOd

As always, diksinya apik tenan, dan saya terhanyut banget ;w; Jing Ai tipe ibu luar biasa~
Dan saya senang akhirnya mereka mau bicara satu sama lain ^^ uwoh jadi keinget iklan sari wangi... /woi
Hubungan suami-istri itu membuat saya ingin lebih tahu banyak, deh mengenai mereka.

All hail to Mocca-senpai! Bikin lagi bikin lagi~ kalau bisa tentang Huang Ling XD
Edited by tungpangtungjes, Dec 17 2012, 08:53 AM.
Posted Image

"mereka yang mereka-reka,
tuan dan puan,
kepala macam kelapa tanpa air,
beriaklah tanya tanpa esensi:
jatuh cinta atau cinta jatuh?"


Instagram | FFn (1) | FFn (2) | tumblr
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Mocca-Marocchi
Member Avatar
Art by @moa810 on twitter
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
@Za
Thanks for reading and reviewing!
Yeah. Jing Ai dimention di Coloured Glaze dengan nama gadisnya, Lin Jing Ai. Pyro-dajie, terima kasih banyak yaa~
Hihi, memang Jing Ai yang menyegelnya. Mamanya Fei Ling itu memang imba *plak*
Lebih lanjut soal suami-istri ini akan diungkapkan di RP dan di Coloured Glaze, deh~
Huang Ling nanti akan ada oneshot-nya lagi kok, tapi sesudah RP DW tamat, yaa~ *plak*

Sekali lagi terima kasih, yaa~
Posted Image
Thanks to S.M.A for the signature!
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
LivingCannon
Member Avatar
Nurgle's Chosen
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
SUGOI! :goodjob: :goodjob:

Mantap! , ternyata kawan ayah Shao Bersaudara (baca : Shao Lang) seperti ini toh orangnya.Pantesan misterius.

Anyway, I love this :kawaii: :kawaii: :kawaii: .

Keep up the good work! :goodjob: :) :)

(PS : Lain kali kalau boleh, nitip Shao Lang dimasukin ke fic-nya Yang Yuan Yu ya? :) )

Eh numpang tanya, Hikage Ryuu itu Yang Yuan Yu ya? ^o)
Edited by LivingCannon, Dec 17 2012, 09:54 AM.
Posted Image

Forget no insult, my sons, as I have never forgotten those of my father, of the Emperor, nor those of Horus. Forgive no slight or grievance. Hold your bitterness deep within, and there let it fester. Let it roil and squirm and churn, until you are filled with bile so poisonous that all you touch falls to ruin. Thus shall you serve Nurgle best. Thus shall you spread his virulent gifts across the false Imperium, and watch its final rotting…
Mortarion, Prince of Decay
Thanks to S.M.A for the set!

Offline Profile Quote Post Goto Top
 
PyroMystic
Member Avatar
Saya cuma pengen liat dua orang ini bahagia. SUER!
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
MANTAFFFFFF~~~

Neeway, sori saya baru bisa baca sekarang... >.<

Lumayan~ Hohohoho~ dengan begini saya rasa saya dapet pencerahan soal karakterisasi Jing Ai. Dan... errr... rasanya kok Yang Yuan Yu di Coloured Glaze OOC banget, ya... Maap... >.< saya kira dia orang yang fun sekaligus kebapakan (kira2 seperti Sun Ce). Tapi ternyata Yang Yuan Yu tipe orang yang serius, ya? Wokey dah ntar di kemunculan berikutnya akan saya perbaiki~

Keren, dah! :goodjob: Suami-istri Yang rupanya sangat romantis sekali, ya~ kayak mereka masih pacaran deh~ Hohohohohoooooo~ Well, jujur saya nggak pernah merasakan kehidupan rumah tangga, jadi kalo saya pasti bakal kesulitan kalo harus membuat POV untuk seorang suami. Tapi Mocca bisa!!! :goodjob: WOWWWWWWW~~~

Dan ceritanya juga pas banget ama lagunya~ ^^

Keep up the goodwork, ya~
Posted Image
“This is a good medicine. I mixed it only recently. With your illness, you must take it promptly.”
-- Yang Hu to Lu Kang, Sanguozhi --
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ezio Auditore

[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Wow.. ini bagus sekali. Satu satunya hal yang saya ga bisa setiap kali menulis sebuah fanfic atau apalah itu adalah memasukkan emosi tokohnya. Saya kenal betul lagu ini, dan baru kali ini saya merasakan makna sesungguhnya lagu itu dengan membaca orific ini.

Saya baru tahu kesedihan dan emosi yang terpendam dalam lagu ini.
Saya tertarik dengan konflik batin dan konflik sosial yang dialami kedua pasangan ini. Uniknya, biasanya dalam fanfic peperangan yang terjadi adalah konflik fisik, namun yang terjadi di sini sebaliknya.

Terima kasih, Mocca-senpai!! I really appriciate it.
Semoga di masa depan Mocca jadi novelist terkenal menggantikan J.K. Rowling.

Thanks. Maaf jika sy terkesan "mengganggu" dengan orific ini.
Posted Image
"You know, if there is one thing I've learned, it's that we must obey the rules of the game. We can pick the game, but we cannot change the rules."
Posted Image
Posted Image
Posted Image
Fanbars credit goes to Daikyo and Zhongda "Sima Yi".
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Mocca-Marocchi
Member Avatar
Art by @moa810 on twitter
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
@all
Thanks for reading and reviewing! XDD I'm glad this story is entertaining enough for you.

@Cannon
Begitulah Yang Yuan Yu. Ohoho~
Boleh aja sih, selama Shao brothers juga ikutan muncul~ saya nggak tau pasti bagaimana sifatnya Shao Lang, jadi mohon bantuannya untuk ini.
Japanese counterpartnya Yang Yuan Yu itu bernama Hikage Hisashi. Hikage Ryuu itu anaknya Hisashi yang paling tua sekaligus reinkarnasi dari Zhao Yun di salah satu Alternate Universe saya~ Ryuu adalah kakak dari Maron (Japanese counterpartnya Fei Ling) dan Rekka (Japanese counterpartnya Rui Huo).

@Pyro
Yuan Yu itu bisa mengubah-ubah personalitynya di depan orang untuk membuat lawan bicaranya nyaman supaya bisa mendapatkan info. Saya sudah puas banget sama personalitynya Yuan Yu di CG, kok~ apalagi saya rasa sedikit banyak Yuan Yu sudah merasa Lu Xun di hadapannya bukan sembarang orang, jadi dia bersikap ramah. Di depan anak-anaknya pun dia biasanya hangat, meski tetap terkesan serius dan misterius...
Yang sifatnya fun itu justru Jing Ai. Kebetulan aja di fic ini (dan di RP nanti) dia jadi angsty.
Soal rumah tangga, saya juga belum pernah, sih. Ini murni dari imajinasi saya tentang "seandainya papa-mamaku seperti ini." XD

@Tommy
Ehehe, masukin emosi dalam fic itu memang butuh upaya lebih. Saya sendiri juga nggak selalu bisa, makanya saya nggak bikin songfic dengan "Never Gonna Give You Up". Saya rasa salah satu cara untuk memasukkan emosi adalah dengan lebih dulu membaca banyak fic yang penuh emosi, supaya ada referensi, gituu.
Nggak mengganggu, kok! Saya malah senang banget karena lagu ini luar biasa cocok dengan kedua OC saya. Terima kasih banyak sudah merequest!
Posted Image
Thanks to S.M.A for the signature!
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
JiidoIRL
Member Avatar
So, I am confused with Dead Apple
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
Coba saja ada tombol 'fave story' dan 'fave author' di sini, sudah saya klik itu dua tombol! :sad2:

Ceritanya bagus banget! :goodjob: Aku tunggu orifict lain dari Mocca-senpai! :fly:
Posted Image

Fanfiction: FFn site
Twitter: Twitter CA


I did say I'm willing to die for one man but, turns out its like a dozen of them. And most importantly, two women stood on top of 'em all.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Mocca-Marocchi
Member Avatar
Art by @moa810 on twitter
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
@zhaoyingchan
Thanks for reading and reviewing~
Mudah-mudahan saya dapat inspirasi untuk bikin orific lain, yah ^^
Posted Image
Thanks to S.M.A for the signature!
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
LivingCannon
Member Avatar
Nurgle's Chosen
[ *  *  *  *  *  *  *  *  *  * ]
@Mocca : Shao Lang itu orangnya happy go lucky lah,tapi bisa serius kalo menyangkut masalah keluarganya, sejarah hidupnya, temannya, dan hal2 yang berbau sihir & mystic. -_-

BTW, ini settingnya 7 tahun sebelum RP ya? Kalo misalnya Shao Brothers dimasukkan juga nggak apa-apa kok, saya persilahkan. :)

FYI, orific diatas mungkin bersetting 2-3 tahun/ lebih sebelum Shao Lang meninggal -_-

Jadi Hikage Ryuu itu reinkarnasinya Zhao Yun ya? Hm... -_-

Posted Image

Forget no insult, my sons, as I have never forgotten those of my father, of the Emperor, nor those of Horus. Forgive no slight or grievance. Hold your bitterness deep within, and there let it fester. Let it roil and squirm and churn, until you are filled with bile so poisonous that all you touch falls to ruin. Thus shall you serve Nurgle best. Thus shall you spread his virulent gifts across the false Imperium, and watch its final rotting…
Mortarion, Prince of Decay
Thanks to S.M.A for the set!

Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
DealsFor.me - The best sales, coupons, and discounts for you
« Previous Topic · Orific Land · Next Topic »
Add Reply