Welcome Guest [Log In] [Register]
Add Reply
FTV M Shuting di Banyuwangi; 2 Judul Film FTV di Banyuwangi
Topic Started: Jul 28 2013, 12:07 PM (503 Views)
NATTA
Member Avatar
Administrator
25-06-2013

BANYUWANGI – Setelah menjadi jujugan para investor yang ingin berinvestasi di Banyuwangi, saat ini para Production House (PH) pembuat film televisi (FTV) mulai memilih Banyuwangi menjadi setting shooting sekaligus menjadi inspirasi judul di FTV. Salah satunya, Motion Picture akan membuat dua FTV sekaligus, Lari Dari Kawin Lari dan Banyuwangi Sunrise of Love dengan bintang film ternama Agus Ringgo dan Sabay Morsech. “Banyuwangi sungguh menakjubkan. Saya takjub ada daerah yang potensinya bagus kok gak diangkat. Ini yang menginspirasi saya menjadikan Banyuwangi sebagai salah satu judul film saya,” ungkap Dwi Ilalang, sutradara Motion Picture, saat menghadiri jamuan tumpengan bersama Bupati Abdullah Azwar Anas di Pendopo, Shaba Swagata Selasa (25/6)

Selama ini, kata Dwi Ilalang, masih belum banyak yang tahu tentang Banyuwangi. Dikira Banyuwangi itu jauh dan sulit transportasinya, ternyata Banyuwangi bagus dan transportasinya sangat mudah. Karena, di Banyuwangi sudah ada bandara yang sangat cantik dan menyimpan keunikan yang sangat alami sekali. “Itulah Banyuwangi, kota di ujung Pulau Jawa yang manis. Makanya untuk promosikan Banyuwangi saya juga ingin shooting di lokasi bandara atau tempat-tempat indah lainnya,” janji Dwi Ilalang dengan berbinar.

Shooting film yang memakan waktu sekitar 2 minggu ini, kata Dwi Ilalang, banyak mengambil view laut dan pegunungan. Karena isi dari cerita film ini komedi pop romantis. Menariknya lagi, dalam pembuatan film ini melibatkan 18 orang asal Banyuwangi ikut andil dalam film pendek ini.

Sementara itu, Agus Ringgo menyatakan kekagumannya akan bersihnya udara Kota Gandrung yang bebas polusi. Bahkan, mantan kekasih Revalina S Temat ini mengaku jatuh cinta dengan Bumi Blambangan karena keramahan penduduknya. “Kalau nanti saya nikah, saya pingin bikin rumah disini aja. Kayaknya adem dan damai. Meski ditengah kota, gak hiruk pikuk, tenang dan nyaman,” komentar Agus Ringgo.

Selain itu, Ringgo Agus juga sempat memuji sambutan Bupati Banyuwangi dan pemerintah daerah yang sangat ramah kepada crew SCTV dan para pemain film. “Saya sudah sering shooting ke mana-mana, sambutannya ya biasa aja, abis shooting langsung balik. Tetapi di Banyuwangi luar biasa, sangat hangat dan welcome sekali. Saya benar-benar bangga bisa ke sini, saya juga berjanji promosikan Banyuwangi jadi salah satu destinasi terkemuka di Indonesia,” seloroh bintang flm muda ini.

Sementara itu, Bupati Anas yang menyambut sendiri para crew, mengaku senang dan bangga atas dipilihnya Banyuwangi sebagai setting dan inspirasi judul PH dari SCTV ini. Mudah-mudahan dengan shooting ini bisa mendatangkan manfaat. Diantaranya pariwisata bisa dipromosikan, sekaligus industri dan ekonomi kreatif bisa tumbuh dengan melihat tayangan film ini. “Saya juga senang sutradaranya sangat kooperatif, sehingga dalam skenarionya bisa dimasukkan muatan-muatan budaya lokal secara tidak langsung ke dalam film. Ini sangat bagus sekali,” ujar Bupati Anas.

Selain itu, Bupati Anas juga mempersilahkan semua crew untuk menggunakan tempat-tempat milik pemerintah untuk dibuat shooting. (Humas dan Protokol).
Eksotisme alam Banyuwangi mulai dilirik oleh pelaku industri Film TV Nasional. Salah satu stasiun televisi nasional, SCTV, telah menyiapkan dua judul film dengan latar belakang alam dan masyarakat Banyuwangi.

Banyuwangi sungguh menakjubkan. Saya kagum ada daerah yang potensinya bagus tapi tidak diangkat.

Production House (PH) Moestions yang berada di balik pembuatan film televisi (FTV) itu memilih Banyuwangi menjadi lokasi syuting sekaligus menjadi inspirasi judul di FTV. Motion Picture akan membuat dua FTV sekaligus yakni berjudul "Lari Dari Kawin Lari" dan "Banyuwangi Sunrise of Love" dengan bintang utama Ringgo Agus Rahman dan Sabay Morsech.

Sutradara Motion Picture, Dwi Ilalang, mengaku kagum dengan potensi alam yang dimiliki kabupaten di ujung timur Pulau Jawa itu.
"Banyuwangi sungguh menakjubkan. Saya kagum ada daerah yang potensinya bagus tapi tidak diangkat. Ini yang menginspirasi saya menjadikan Banyuwangi sebagai salah satu judul film `Banyuwangi Sunrise of Love`," tuturnya.

Terkait syuting dua FTV tersebut, Dwi Ilalang bertekad menampilkan yang terbaik. “Saya tidak ingin mengecewakan masyarakat Banyuwangi. Saya akan all out,” ka tanya kemarin. Sutradara yang pernah bekerja sama dengan Jackie Chan itu optimistis Banyuwangi bisa menjadi kota industri film. “Banyuwangi sangat potensial. Sebelum orang lain yang memulai, saya yang awali lebih dulu,” tambahnya.

Menurut dia, syuting film yang memakan waktu sekitar dua pekan itu banyak mengambil lokasi yang memiliki pemandangan laut dan pegunungan karena isi dari cerita film tersebut komedi pop romantis.

"Kami juga melibatkan 18 orang asal Banyuwangi untuk ikut andil dalam film pendek yang dibintangi Ringgo Agus Rahman dan Sabay Morsech," ujarnya.
Ke 18 pemeran tersebut, menurut Plt Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Banyuwangi, Muhammad Yanuarto Bramuda, sebelum dilakukannya shooting 2 FTV, sudah dilakukan casting pemeran pembantu yang di lakukan di Pelinggihan Disbudpar Banyuwangi.

Bramuda menambahkan, lokasi untuk shooting FTV tersebut banyak pilihan. Mulai dari Pulau Merah, Ijen, Plengkung, Alas Purwo, Sanggar Genjah Arum dan masih banyak lagi. Namun semuanya tergantung dari sutradara yang akan menentukan dimana lokasi pengambilan gambar FTV tersebut.
“Adanya FTV ini, diharapkan dapat mengenalkan budaya dan pariwisata yang ada di Banyuwangi,” tandasnya.

Jika Banyuwangi benar-benar menjadi kota industri film, orang Banyuwangi tidak perlu ke Jakarta jika ingin menjadi aktris dan aktor. Di Banyuwangi saja sudah bisa. Selain itu, para seniman lokal juga akan kecipratan rezeki.

Kepada MH. Qowim, editor bahasa Jawa Pos Radar Banyuwangi, Dwi Ilalang mengaku ingin mengangkat beberapa potensi lokal. “FTV memang film ringan, tapi saya harap dengan syuting di sini, FTV yang dihasilkan akan berbeda. Tidak hanya enak ditonton, tapi juga berisi,” tambah sutradara bertangan dingin yang pernah membesut film The Maling Kuburans itu.

Dwi Ilalang sangat ingin dua FTV Banyuwangi tersebut menjadi sarana soft promotions. “Kita bisa menyelipkan berbagai kearifan lokal di dalam film tersebut. Dan semoga ini menjadi awal yang baik,” tambahnya.

Pengakuan Dwi, bukan hanya pihak Pemkab Banyuwangi yang sangat antusias terkait produksi fi lm FTV di Banyuwangi, pihak SCTV pun sangat antusias. Dia yakin FTV di Banyuwangi akan berbeda dengan FTV-FTV yang diproduksi di daerah lain. Film yang juga didukung Jawa Pos Radar Banyuwangi tersebut akan mulai produksi tanggal 25 Juni 2013, dan diperkirakan selesai 5 Juli 2013. “Mohon dukungan semua masyarakat Banyuwangi,” pungkas Dwi Ilalang.

source : www.banyuwangikab.go.id
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
« Previous Topic · Perkembangan kota Banyuwangi · Next Topic »
Add Reply